Manusia pada dasarnya diciptakan
memiliki perasaan atau rasa, untuk merasakan banyak hal di alam ini, ditambah
dengan rasa yang ada di dalam tubuh manusia sendiri, seperti bahagia,
ketenangan, rindu, hampa, sesak, dan sebagainya. Ketika kita sebagai manusia
bisa merasakan berbagai macam warna rasa itu, maka kita akan menjadi manusia
yang lebih manusia, karena manusia diciptakan dengan potensi rasa.
Di zaman sekarang, kecenderungan di
pendidikan adalah untuk terus memakai logika-logika dibanding dengan imajinasi,
lebih dituntut untuk berpikir dibanding untuk merasakan, padahal perasaan
adalah hal yang penting, banyak hal-hal di hidup ini yang harus dirasakan dibanding
dengan dipikirkan, seperti kasih sayang, rasa syukur empati, simpati, hingga
cinta, semua itu dalah bagian hidup yang penting untuk dirasakan dibanding
dengan berpikir.
Ketika
ada shabat kita yang ayahnya meninggal misalnya, kita turut berduka cita, kita
mencoba merasakan bagaimana jika ayah kita yang meninggal. Ketika melihat
televisi, kita melihat anak-anak palestina yang diperangi dan berada pada
suasana mencekam, raut muka mereka penuh ketakutan, ada yang menangis, dan
sebagainya, kita yang melihat dari depan televisi jika kita memilki perasaan,
pasti kita tersentuh, sedih, ingin membantu, setidaknya mengirimkan doa kepada
mereka. Jika kita melihatnya hanya sebagai berita biasa yang sudah biasa
ditayangkan berarti kita tak punya perasaan, atau perasaan kita tipis.
Manusia
itu saling membutuhkan, maka diperlukan untuk membuka hati, memiliki rasa
saling merasakan, ketika antar manusia tidak memiliki rasa saling merasakan,
maka banyak kerusakan-kerusakan yang terjadi, banyak penindasan, karena tidak
ada kepedulian antara kita.
Ketika
hujan turun, mungkin banyak diantara kita yang mengeluh, “yaah hujan..”, karena
menjadi sulit untuk bermobilitas keluar, padahal hujan adalah berkah, coba
lihat, titik-titik air turun dari langit, jalan-jalan menjadi serba basah,
udara menjadi lebih sejuk, suasana memutih, tumbuh-tumbuhan dan rerumputan
mendapat rezeki, ditambah bunyi hujan yang khas dan alami, jika kita merasakan
itu semua, merasakan hujan sebagai berkah, merasakan hujan memiliki suasana
yang khas yang meresonansikan sesuatu, dan kita mensyukurinya, maka hidup ini
akan terasa lebih indah, karena kita bisa merasakan.
Ketika
pagi hari, senja hari, malam hari, subuh, semua waktu memiliki identitas masing-masing, suasana dan
rasa yang bisa kita rasakan masing-masing di setiap waktu yang berganti itu,
semua memiliki keindahan masing-masing. Lebih-lebih jika kita berada di alam,
di depan laut, disawah, hutan, kaki gunung, jika kita dapat merasakan dan peka,
kita bisa merasakan keindahan yang tak mampu semuanya diungkapkan dengan kata,
yang akhirnya akan menjadi rasa syukur yang semakin membuat kita dapat
merasakan.
Berpikir
tak mampu menerjemahkan banyak kedaan sekaligus, karena sifat berpikir adalah
fokus, tapi dengan merasakan, kita dapat menyerap banyak hal kedapalam diri
lewat panca indra, terkumpul menjadi sesuatu yang dinamakan perasaan. Berpikir
itu parsial, merasakan itu menyeluruh.
0 comments:
Post a Comment