Pendengaran dan Penglihatan

Manusia adalah makhluk yang memiliki organ-organ untuk berinteraksi dengan dunia luar, yaitu mata, telinga, lidah, kulit, dan hidung, disebut panca indera. Disini akan dibahas secara khusus tentang penglihatan dan pendengaran. Penglihatan ada karena ada organ yang bernama mata, sementara pendengaran ada karena ada organ yang bernama telinga. Penglihatan identik dengan gambar dan pendengaran identik dengan suara. Dari sudut pandang sains, manusia bisa melihat karena adanya pantulan cahaya dari benda-benda disekitarnya yang masuk ke mata dan diteruskan dalam bentuk impuls-impuls kepada bagian belakang otak sebagai tempat memproses dan mengolah sesuatu yang ditangkap oleh mata dan akhirnya kita mengartikannya sebagai suatu gambar. Rentang panjang gelombang cahaya yang dapat ditangkap oleh manusia adalah dari 400 nanometer sampai 700 nanometer, jadi, diluar rentang itu manusia tidak bisa melihatnya dengan mata biasa. Teknologi dapat membantu manusia untuk melihat gelombang cahaya di luar batas rentang yang dapat dilihat manusia, itu pun memiliki batas, contohnya melihat sinar inframerah.
            Untuk pendengaran tak jauh berbeda dengan penglihatan, sama-sama diterima oleh salah satu organ panca indera, hanya disini adalah telinga, diteruskan ke bagian otak sebelah bawah agak ke tengah, sama-sama memiliki rentang, frekuensi antara 20-20.000 Hz. Gelombang yang diterima oleh mata adalah gelombang elektromagnetik sementara gelombang yang diterima oleh telinga adalah gelombang mekanik.
Dengan mata kita bisa melihat pemandangan alam, gunung, hujan, burung-burung, hewan-hewan, wajah orang lain, kilat, langit, bintang-bintang, dan lain sebagainya. Dengan suara kita bisa mendengarkan suara orang lain, suara kicauan burung, suara benda yang yang berinteraksi, suara musik, lantunan ayat-ayat al-Qur’an, gemericik air, suara ayah, ibu, saudara, dan lain sebagainya
            Muncul sebuah teka-teki jika kita mengamati dari sudut pandang agama mengenai penglihatan dan pendengaran manusia ini, dalam banyak ayat al-Qur’an, pendengaran selalu disebutkan terlebih dahulu sebelum penglihatan, “Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian dalam keadaan kalian tidak mengetahui sesuatu apapun. Dan Dia memberi kalian (anugerah berupa) pendengaran, penglihatan dan kalbu agar kalian bersyukur.” [An-Nahl: 78].  “Dan janganlah engkau mengikuti apa yang engkau tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya setiap pendengaran, penglihatan, dan kalbu itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” [Al Israa’:36].  “Kemudian Dia menyempurnakan (janin manusia) dan meniupkan ruh ciptaanNya ke dalam (janin) tersebut. Lalu dia menjadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan, dan kalbu. Namun sedikit sekali diantara kalian yang bersyukur.” [As Sajdah 9].  “Katakanlah: “Dia-lah yang menciptakan kalian dan menjadikan untuk kalian pendengaran, penglihatan, dan kalbu. Namun sedikit sekali diantara kalian yang bersyukur.” [Al Mulk:23]. “Dan sungguh Kami (Allah) telah mengokohkan kedudukan mereka (kaum ‘Aad-pen) dalam hal yang Kami belum mengokohkan kalian padanya. Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan kalbu, namun ternyata pendengaran, penglihatan dan kalbu tersebut tidak bermanfaat sedikitpun bagi mereka. Sebab mereka telah menentang ayat- ayat Allah dan (akhirnya) mereka diliputi azab yang dulunya mereka memperolokkannya.” [Al Ahqaaf:26].
            Ada apa dengan pendengaran? Apa keistimewaan pendengaran dibanding penglihatan? Mengapa dalam agama(Islam) pendengaran selalu disebut lebih dahulu? Kita telusuri sedikit perbandingan antara penglihatan dan pendengaran. Organ pendengaran adalah organ yang pertama kali aktif ketika bayi baru dilahirkan, sesuai dengan surat an-Nahl: 78 di atas.
 Agama ada untuk mengajarkan kebaikan, menuntut manusia untuk menyebarkannya. Jika seseorang melihat kebesaran alam ini yang menunjukan Kebesaran Sang Pencipta, Allah SWT, dengan jalan apa orang tersebut membagikan ilmunya kepada orang lain? Lewat pendengaran atau lewat penglihatan? Keduanya bisa dan baik, tapi untuk mengetahui perbedaannya, kita bandingkan keduanya. Jika misalkan orang tersebut ingin menyebarkan ilmunya lewat jalan penglihatan, ia dapat menulis apa yang ia lihat dan meyebarkan tulisannya kepada orang lain, sementara jika orang tersebut ingin menyampaikan ilmunya lewat jalan pendengaran ia bisa langsung berbicara kepada orang-orang mengenai ilmu kebaikan yang ia dapat. Jika dibandingkan, lewat jalan penglihatan, untuk membaca suatu tulisan, tidak semua orang berinisiatif untuk membaca, jadi mungkin butuh waktu lebih pesan kebaikannya tersampaikan kepada orang-orang. Lewat jalan pendengaran, ketika orang itu menyampaikan kepada orang lain, tanpa inisatif ia otomatis akan mendengarkan, kecuali ia menutup telinganya. Jika setiap manusia menggunakan pendengarannya untuk mendengarkan kebaikan dan menyampaikan kepada orang lain, saling mendengarkan dan menyampaikan, tentu kebaikan akan menyebar dengan kontinyu dan cepat.
          
 Ini mungkin salah satu penjelasan tentang perbandingan antara penglihatan dan pendengaran, bukannya menafikkan salah satunya, ini hanya upaya untuk mengetahui mengapa pendengaran selalu disebutkan terlebih dahulu sebelum penglihatan dalam ayat-ayat al-Qur’an, mungkin saudara memiliki penjelasan yang lain.
            Tak bisa dipungkiri, di zaman sekarang ini musik menjadi menjadi industri yang besar, hampir setiap orang menyukai musik, karena dapat memengaruhi suasana hati dan pikiran, musik mengandung suatu keindahan, nada-nada, instrumen, warna suara, semua harmonisasi itu menghasilkan suara yang enak dan indah di dengar, walaupun mungkin ada beberapa pendapat yang mengharamkan musik, mereka juga pasti punya landasan dalilnya, terlepas dari itu semua, musik sangat digandrungi adalah fakta, hampir semua media memiliki musik seperti televisi, radio(pastilah), film, dll, musik hampir tak terpisahkan dari kehidupan zaman sekarang, dan yang pasti musik itu ada karena manusia memiliki pendengaran, jika tak ada pendengaran manusia tak bisa menikmati musik, tapi memang tak hanya musik saja yang bisa dianggap indah oleh manusia, suara alam, suara burung, gemericik air, suara gesekan daun-daun di pepohonan yang tertiup angin, suara jangkrik, suara lantunan indah ayat-ayat al-Qur’an, suara lembut ibu kita, sahabat-sahabat, dan lain sebagainya, adalah kenikmatan pendengaran sebagai suara anugerah dan keindahan. Jika kita mencoba merasakan rasanya tuli, coba tutup telinga kita, rasanya hampa, bukan? Agak meyeramkan. Jika kita mencoba merasakan buta, pejamkan mata kita, memang agak menyeramkan tapi kita masih punya imajinasi untuk memvisualkan gambar sekitar di otak kita, dari suara-suara yang kita dengar juga dapat kita imajinasikan sumbernya sebagai gambar-gambar dalam otak, kita masih bisa melihat keadaan sekitar lewat imajinasi kita. Ini hanya perbandingan, selayaknya kita senantiasa bersyukur atas nikmat penglihatan dan pendengaran yang telah dianugerahkan kepada kita.
            Lalu muncul kembali sebuah pertanyaan, mengapa al-Qur’an menjelaskan keindahan Surga lewat jalan visualisasi(penglihatan)? Bukan dengan suara(pendengaran)?, dalam beberapa ayat,  Al-qur’an Surat Al-Baqarah ayat 25 : Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.
“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih bahwasanya mereka akan mendapatkan balasan berupa surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai…” (Qs.al-Baqarah: 25)
“Bagi orang-orang yang bertakwa terdapat balasan di sisi Rabb mereka berupa surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, begitu pula mereka akan mendapatkan istri-istri yang suci serta keridhaan dari Allah. Allah Maha melihat hamba-hamba-Nya.” (Qs. Ali Imran: 15)
            Di sisi lain, Allah memerintahkan manusia untuk menahan pandangannya(penglihatan), “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (An-Nur [24]: 30-31)
            Ketika menceritakan tentang siksaan, al-Qur’an menyebutkan mata(penglihatan) dahulu baru telinga(pendengaran), "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai." (QS. 7:179)
            Apa makna itu semua? Ketika berbicara masalah dunia, Allah mendahulukan pendengaran baru penglihatan, Allah memerintahkan kepada kita untuk menahan pandangan(penglihatan), tetapi ketika berbicara masalah akhirat, Allah mendahulukan penglihatan, seperti ketika menjelaskan keadaan di Surga, ketika menjelaskan tentang penghuni neraka bahwa mereka tidak menggunakan matanya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, baru setelah itu pendengaran disebut, bahwa mereka mempunyai telinga tapi tidak dipakai untuk mendengar ayat-ayat Allah, salah satu kenikmatan di akhirat juga adalah dapat melihat Allah,
      Surah Al-Qiyamah ayat 22-23.
{وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ (22) إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ} [القيامة: 22، 23]
Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.

 Surah Al-Muthaffifiin ayat 22-24.
{إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ (22) عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ (23) تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ} [المطففين: 22 - 24]
Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (syurga), Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan.
Mereka memandang semua kenikmatan yang ada dalam surga, dan tiada kenikmatan yang paling besar selain menihat wajah Allah subhanahu wata'ala.

Surah Yunus ayat 26.
{لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ} [يونس: 26]
Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.
Yang dimaksud dengan tambahannya ialah kenikmatan melihat Allah sebagaimana ditafsirkan oleh Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam. Dari Suhaeb; Rasulullah bersabda:
" إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، قَالَ: يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ، وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ " ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ: {لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ} [يونس: 26]
Jika penghuni surga sudah masuk ke surga, Allah berkata kepada mereka: Apakah kalian menginginkan sesuatu nikmat kutambahkan untuk kalian? Mereka menjawab: Bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke surga, dan menyelamatkan kami dari neraka? Rasulullah bersabda: Kemudian Allah membuka hijab-Nya, maka mereka tidak diberi sesuatu yang lebih mereka sukai dari pada kenikmatan melihat Allah 'azza wajalah, kemudian Rasulullah membaca ayat ini ... . [Sahih Muslim]

            Ini bisa diartikan bahwa penglihatan adalah ujian bagi manusia di dunia, manusia lebih dituntut untuk menggunakan pendengarannya dibanding penglihatannya, karena penglihatan itu menipu dan lebih besar peluangnya mengantarkan kepada kemaksiatan kepadaNya. Pada ayat tentang penghuni neraka pun yang pertama kali didahulukan adalah penglihatan sebagai penyebab bangsa jin dan manusia berada di neraka, manusia diperintahkan untuk menjaga pandangan terhadap hal-hal yang dapat mengantarkan kepada kemaksiatan, orang-orang yang dapat menahan pandangannya di dunia yang menipu ini akan mendapat balasan untuk melihat banyak keindahan dan kenikmatan yang sebenarnya di akhirat kelak. Sungguh Maha Adil Allah. Semoga kita bisa menggunakan pendengaran untuk mendengarkan ayat-ayat Allah dengan baik, dan menggunakan pandangan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah, dan dapat menjaganya dari pandangan-pandangan tak bermanfaat dan banyak menipu ini. Tetapi tetap,  pendengaran dan penglihatan adalah anugerah Allah yang harus disyukuri. Wallahua’lam.
NewerStories OlderStories Home

0 comments:

Post a Comment