Sejak dahulu,
sejak pertama kali manusia muncul dan menginjakkan kaki di Bumi, langit telah
terbentang, bahkan langit sudah ada terlebih dahulu jauh sebelum ada manusia.
Hanya saja, siapa dahulu yang menyaksikan keeksotikan langit itu? Lalu manusia
muncul, setidaknya di Bumi ini, ia melihat langit, melihat keindahannya,
mungkin hewan-hewan purba pun memandang langit, tapi apakah mereka punya
interpretasi dan curiousity yang sama
dan setingkat dengan manusia? Kelihatannya tidak. Pada awalnya langit sebatas
nilai etis dan keindahan saja, tapi seiring waktu, manusia mulai membaca
langit, memaknainya, mengartikannya, dan mulai banyak mempertanyakannya. Langit
mulai dimanfaatkan manusia untuk berbagai fungsi, tidak hanya sebagai lukisan
langit saja, tapi sebagai penunjuk arah misalnya, sebagai penanda musim panen,
waktu, hingga masalah-masalah astrofisika modern sekarang, dan lain sebagainya.
Dengan ditemukannya fungsi-fungsi langit tersebut, aspek keindahan sama sekali
tidaklah luntur, aspek keindahan dan fungsi berjalan beriringan, tergantung
manusia ingin memandang bagian mana, atau kedua aspek tersebut dapat dilihat
secara sekaligus.
Harmoni Tata Surya
Para pemikir dan ilmuan zaman dahulu
mulai menyadari bahwa planet Bumi tidaklah sendirian, Bumi bersama-sama planet
lainnya mengelilingi matahari. Konsep planet-planet mengelilingi matahari
secara terkenal dikemukakan oleh Nicolaus Copernicus sekitar tahun 1500an.
Konsep heliosentris ini membuat konsekuensi filosofis berubah, dari yang
awalnya ‘kita adalah segalanya’, karena semua benda mengelilingi kita, semua
benda tunduk kepada Bumi, Bumi dilayani oleh benda-benda lain, berubah menjadi
‘kita hanyalah bagian kecil alam semesta’, kita sama seperti yang lain, kita
tidaklah istimewa. Ya, begitulah kira-kira konsekuensi filosofis yang memutar
hampir 180 derajat perspektif manusia memandang keberadaan dirinya, loncatan
perubahan ini tentunya tidak dapat langsung dapat diterima oleh semua orang.
Pemikiran manusia kadang hanya menyandarkan kebenaran pada perasaan, tapi sains
berbicara bukan dengan rasa, tapi berdasarkan data dan fakta, sehingga manusia
perlu membangun ulang persepsi dan rasa yang tersandarkan pada sains, yang tersandarkan
pada data dan fakta.
Pergerakan
matahari dan bintang-bintang adalah akibat dari rotasi Bumi, bukan akibat dari
revolusi mereka terhadap Bumi. Pergantian siang malam akibat pergerakan semu
matahari sebenarnya adalah akibat rotasi Bumi, ada bagian Bumi yang terkena
cahaya, dan ada yang tidak, itulah siang dan malam. Secara makro, peristiwa
siang-malam hanyalah sesepele bola yang berputar dihadapan sebuah lampu besar,
seluruh bagian bola akan bergiliran terkena cahaya lampu, dan bergiliran tidak
terkena cahaya lampu. Tapi secara mikro(sudut pandang manusia), peristiwa itu
menghasilkan peristiwa pergantian waktu yang memiliki nilai, ada waktu fajar, ada
siang, ada senja, dan ada gelap malam. Kecilnya manusia ini memiliki sebuah
keuntungan, peristiwa makro sesederhana perputaran bola yang memenuhi kaidah
gravitasi, secara mikro memiliki nilai yang berharga bagi manusia, ataupun bagi
makhluk-makhluk lainnya di Bumi.
Dibanding dengan planet-planet lain
di tata surya kita, tentu Bumi adalah yang paling istimewa menurut kita, karena
disini kehidupan kita berlangsung, tempat yang terbilang indah dengan segala
kenyamanannya. Dari sudut pandang umum posisi dan pergerakan, Bumi terlihat
tidak istimewa, ia sama-sama bergerak dengan planet-planet lainnya. Bumi memang
berada pada habitable zone, yaitu
zona dengan suhu yang tepat, dimana air sebagai penunjang kehidupan dapat
terbentuk pada fase cair. Secara urutan planet, Bumi tidak menempati urutan
yang istimewa, biasanya urutan yang identik dengan keistimewaan adalah urutan
pertama, tapi Bumi berada di urutan ketiga, tapi hanya di posisi inilah letak habitable zone pada tata surya kita
berada, dengan karakter matahari kita yang merupakan bintang kelas G. Lebih
dekat akan terlalu panas, lebih jauh akan terlalu dingin. Planet kita termasuk
planet kebumian, bersama dengan Merkurius, Venus, dan Mars, lalu ada planet
raksasa, yaitu Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Diantara kelompok
planet kebumian dan planet raksasa dibatasi oleh sebuah ‘area berbatu’, yaitu
sabuk asteroid, yang merupakan distribusi utama dari asteroid di tata surya
kita. Umur tata surya kita sekitar 4,6 milyar tahun, selama itu planet-planet
dan susunan tata surya ini terbentuk, hingga kita hidup sekarang dan membaca
tulisan ini. Jarak Bumi ke matahari sejauh 149,6 juta kilometer, jarak yang
sangat lebar kalau menurut skala Bumi, maka dalam skala astronomi, 149,6 juta
kilometer ini disebut 1 AU(1 Astronomical
Unit), skala ini cocok untuk mengukur jarak pada skala tata surya. Di
planet kebumian, kita dapat menginjakkan kaki di tanah, tapi di planet raksasa
kita tidak dapat menginjakkan kaki, karena komposisi utama pembentuk massanya
adalah gas. Kedelapan planet tersebut bergerak mengelilingi matahari karena
interaksi gravitasi dengan pengaruh massa dominan yaitu Matahari. Interaksi
gravitasi sebenarnya terjadi kepada semua benda, tapi pada akhirnya, faktor
besar massa dan jarak yang menentukan. Bumi dengan Mars memiliki interaksi
gravitasi, tapi interaksi itu kalah jauh dengan interaksi Bumi dengan Matahari.
Pengaruh interaksi gravitasi dengan Bulan tentu lebih signifikan jika
dibandingkan dengan Mars, walaupun ukuran Mars lebih besar, namun jaraknya
sangat jauh dibanding dengan Bulan. Interaksi gravitasi antara semua benda
tersebut menghasilkan resultan yang membentuk komposisi pergerakan di tata
surya sekarang ini, walaupun andil dan pengaruhnya berbeda-beda. Andai saja
satu buah objek langit hilang, atau misal sebuah planet hilang, tentu itu akan
mempengaruhi objek di sekitarnya yang selama ini memiliki interaksi dengan
planet tersebut, dan dapat mengubah arah gerak sebuah objek di sekitarnya.
Misalnya Jupiter tiba-tiba saja menghilang, maka satelit-satelit yang
mengelilinginya, Io, Ganimade, Callisto, Europa, akan tercerai berai menuju
arah tak tentu, lalu sabuk asteroid dapat pula terganggu jalurnya, karena massa
Jupiter sangat besar. Bisa jadi sabuk asteroid itu akan tertarik ke arah dalam
ke arah planet kebumian, karena pengaruh gravitasi matahari, dan tentu ini
cukup mengancam kehidupan di Bumi. Jadi bisa dikatakan, keberadaan benda-benda
dan planet di langit tidaklah tidak penting, namun memiliki peran tertentu
dalam keseimbangan alam yang telah berjalan sekarang ini.
Kemunculan keluarga manusia baru
sekitar 200.000 tahun, dibanding dengan umur tata surya yang 4,6 milyar tahun.
Kemunculan manusia termasuk belakangan seiring dengan proses evolusi milyaran
tahun yang akhirnya membentuk kompleksitas yang sangat kompleks. Manusia
seperti produk terakhir yang dihitung sampai sekarang, makhluk yang sangat
kompleks mekanisme tubuh dan berpikirnya, seolah-olah secara filosofis kita dapat berpikir bahwa
alam dan Bumi ini telah menyiapkan kondisinya selama milyaran tahun untuk
kemunculan kita, walaupun menurut C. De Duve, seorang pemenang nobel di bidang
kedokteran tahun 1974 mengatakan, “life
is a cosmic imperative, the inevitable outcome of cosmic evolution”, beliau
mengatakan bahwa kehidupan adalah keniscayaan kosmik, sesuatu yang pasti
terjadi hasil dari evolusi kosmik. Jadi kehidupan bukan disiapkan untuk
terbentuk, tapi memang sebuah keniscayaan dari hukum fisika dan alam, ataukah
hukum fisika yang paling mendasar memang dikehendaki untuk membentuk kehidupan?
Ada sebuah perdebatan tentang asal
usul kehidupan di Bumi, ada yang mengatakan kehidupan berasal berasal dari Bumi
sendiri, dan ada yang mengatakan kehidupan berasal dari luar Bumi. Bapak Miller
dan Urey yang melakukan eksperimen yang menunjukkan bahwa zat-zat penyusun
kehidupan seperti asam amino dan gula dapat terbentuk oleh proses alam yang
terjadi di pada masa primordial Bumi. Lalu yang mengatakan bahwa kehidupan
datang dari luar Bumi adalah konsep yang disebut dengan ‘panspermia’, hal ini dibuktikan dari ditemukannya molekul-molekul
kompleks pada meteorit-meteorit yang jatuh ke Bumi. Bahkan ada bakteri yang
ditemukan bertahan selama dua tahun di ruang angkasa, ini memberikan peluang
bahwa mikroba-mikroba bisa jadi datang dari luar angkasa. Namun, jika kita melihat
sejarah Bumi, planet ini terbentuk dari kumpulan debris yang notabene nya adalah berasal dari luar.Jadi, pada
dasarnya semua pembentuk kehidupan ini berasal dari luar? Tentu kita perlu
memberi batasan antara luar dan dalam ini. Jika Bumi telah cukup terbentuk dan
menjadi sebuah ‘laboratorium besar’ untuk membentuk kehidupan, dan tercipta
sebuah bentuk awal kehidupan, maka bisa dikatakan itu berasal dari dalam Bumi,
walaupun bahan-bahan dasar Bumi dahulunya berasal dari luar, dan jika datang
objek langit yang membawa sesuatu yang menunjang untuk hidup setelah itu, maka
bisa kita katakan itu datang dari luar, walaupun dahulunya objek seperti itu
juga datang di masa lalu Bumi dan telah menjadi bagian Bumi hingga disebut
bagian dalam Bumi. Pada akhirnya, bisa jadi kedua pendapat itu betul, karena dalam
sains dualisme seperti itu biasanya tidak bertentangan, tergantung dari sudut
pandang mana kita melihatnya, seperti pada konsep dualisme gelombang-partikel.
Laboratorium Bumi ini dapat menciptakan sebuah evolusi yang mendukung
kehidupan, dan juga mendapat bantuan pasokan dari luar untuk menunjang proses
terciptanya kehidupan.
Jika kita melihat planet kita, Bumi, tentu kita akan
berdecak kagum, kita berdecak kagum dengan asal usul kita sendiri. Kondisinya
serba pas, dan memungkinkan kehidupan muncul disini, dari hasil evolusi
milyaran tahun. Tidak mungkin kita hidup di zaman beberapa milyar tahun yang
lalu ketika Bumi masih banyak ditumbuk oleh objek-objek luar angkasa seperti
asteroid, karena proses evolusinya belum sampai pada kompleksitas tertentu.
Kalaupun ada makhluk, seleksi alam akan berlaku, siapa yang mampu bertahan
hidup di tengah kondisi seperti itu? Mungkin beberapa organisme ekstremofilik.
Maka, ketika masa itu sudah berakhir, Bumi sudah mulai mendingin, oksigen sudah
diproduksi dengan berbagai macam proses, salah satunya lewat cyanobacteria, maka mulai saat itulah
proses menuju pembentukan hidup yang lebih kompleks dimulai, berproses milyaran
tahun hingga sampai saat ini. Bumi memiliki medan magnet yang melingkupinya, yang
melindungi dari radiasi kosmik dan angin matahari yang dapat merusak kehidupan
di Bumi. Bumi memiliki bulan yang mampu menstabilkan rotasi dan inklinasi Bumi
sehingga Bumi saat ini memiliki siang malam yang 24 jam, mempunya pola musim
yang seperti sekarang. Semuanya teratur dengan pas untuk melindungi kehidupan,
atau memang kehidupan baru bisa muncul di tengah kondisi yang nyaman dan aman
seperti ini.
Kalau kita perhatikan, Bumi kita sangatlah aktif,
semuanya bergerak, tidak hanya dari pergerakan rotasi dan revolusi saja, tapi
apa yang ada di dalam Bumi pun semuanya bergerak, lapisan cair dekat inti Bumi
aktif mengalir. Di Bumi terdapat banyak ‘ring
of fire’, gunung merapi banyak yang masih aktif. Indonesia menjadi salah
satu daerah didalam ring of fire itu.
Benua-benua pun bergerak sebagai lempeng-lempeng yang seperti puzzle. Lalu
terdapat siklus hidrologi atau perputaran air, memiliki fungsi sebagai distribusi
air bagi para makhluk hidup. Air laut dapat dibawa ke dataran yang jauh, oleh
penguapan dan udara yang bergerak(angin). Air laut dalam pun
bergerak dalam bentuk arus-arus air laut, ada arus hangat dan arus dingin.
Eksentrisitas, inklinasi, dan presesi Bumi pun tidak tetap, namun bergerak,
walaupun dengan orde puluhan ribu tahun. Semuanya bergerak dan berputar.
Manusia pun dalam sejarahnya banyak berpindah, berhijrah, melakukan migrasi,
begitu pun para hewan. Semuanya bergerak dengan alasan dan penyebabnya
masing-masing yang juga bisa saling berhubungan, Bumi ini kompleks dan dinamis.
Iklim pun dapat berubah sebagai akibat dari pola pergerakan Bumi ini, seperti
presesi, nutasi, dan eksentrisitasnya. Lalu, apakah perubahan iklim itu semata
berasal dari alam atau ada campur tangan manusia dewasa ini? Atau keduanya
memiliki andil untuk merubah iklim Bumi? Perubahan iklim akibat pola pergerakan
Bumi adalah suatu keniscayaan secara astronomis dan geografis, tapi apakah
perubahan iklim akibat prilaku manusia merupakan keniscayaan alam juga? Atau
sebuah pilihan? Jika kita lihat, lubang ozon di daerah selatan semakin
‘bolong’, kandungan ozon(O3) semakin menipis dalam kurun waktu tahun
1979-1998 yang diakibatkan oleh senyawa chlorofluorocarbon(CFC) yang dapat
memecah molekul O3, dimana fungsi molekul O3 untuk
memblok sinar radiasi ultraviolet untuk sampai ke permukaan Bumi. Sinar
ultraviolet yang mengenai CFC akan memisahkan klorin, klorin akan ‘mencuri’ atom
oksigen dari O3, menghasilkan ikatan satu atom oksigen dan satu atom
chlorin atau klorinmonoksida. Jika ada satu atom oksigen menabrak
klorinmonoksida, maka klorin akan kembali terpisah, dan dapat memecah O3 yang
lain, sehingga ozon akan semakin menipis akibat keberadaan CFC ini. Dampak lain
dari peradaban manusia yaitu hujan asam dan polusi di perkotaan akibat industri
dan kendaraan bermotor. Pada awalnya manusia tidak menyadari bahwa perkembangan
teknologinya ternyata berdampak kepada alam, ketika bintang-bintang di langit
malam mulai tidak terlihat, ketika udara dan temperatur mulai terasa lebih
gerah dalam beberapa dekade terakhir. Kita yang ‘disintesis’ dengan proses
alam, oleh bintang, Bumi, tanah, hewan, hingga muncul spesies manusia, lalu
makhluk yang bahan-bahannya berasal dari alam ini tiba-tiba punya kehendak
untuk merusak keseimbangan alam sebagai asal-usulnya sendiri? Sebuah fenomena
yang menimbulkan tanya.
Tanah Bumi yang tidak goyah, membuat manusia dapat
beraktivitas, bergerak, berpikir, berkarya seni, berpolitik, dan beribadah
dengan nyaman dan tidak terganggu, seolah-olah Bumi diam, dan dari langit tidak
ada ancaman apapun. Namun kenyataannya, Bumi hanyalah salah satu benda yang
bergerak diantara ribuan lebih benda lainnya, seperti planet-planet, asteroid,
dan komet. Terdapat sekitar 20.000 asteroid di sabuk utama asteroid yang telah
diketahui orbitnya, lalu ada 889 asteroid ‘di depan’ dan ‘belakang’ Jupiter
dengan sudut 600, ada 67 asteroid ditemukan diantara Jupiter dan
Neptunus, terdapat 799 asteroid dekat Bumi yang diketahui, dimana 103 asteroid
orbitnya di bagian dalam orbit Bumi, 593 asteroid yang orbitnya memotong Bumi,
dan 595 asteroid
yang orbitnya di bagian luar orbit Bumi, dan masih akan terus bertambah jumlahnya
seiring dengan penemuan-penemuan asteroid yang belum diketahui sebelumnya.
Melihat banyaknya benda-benda lain atau asteroid yang bergerak di sekitar
lingkungan Bumi, seharusnya membuat kita sadar bahwa kita adalah bagian dari
semesta diluar sana, kita memiliki interaksi dengan langit, karena dalam bukti
sejarah, saat ini telah diketahui ada 175 kawah benturan yang ada di seluruh
dunia, contohnya kawah di Arizona yang memiliki lebar 1,25 km dan kedalaman 150
m, yang dihantam dengan kecepatan jatuh 15 km/detik!. Dari data yang dianalisa,
asteroid berdiameter 100 meter akan datang ke Bumi setiap 10.000 tahun sekali.
Kecepatan yang tinggi dari asteroid akan menciptakan momentum yang sangat besar
terlebih jika ukuran asteroidnya besar, dapat membuat bencana yang sangat besar
di muka Bumi. Bumi tempat kita berpijak ini merupakan benda yang sama-sama
bergerak seperti benda-benda lainnya diluar sana, perhatian akan hal ini
dibutuhkan untuk kepentingan keamanan dan juga untuk kepentingan dalam
kesadaran kosmos bagi manusia di Bumi. Setiap harinya 100 sampai 1000 ton
meteoroid membombardir Bumi, masuk ke dalam atmosfer dan bergesekan
menghasilkan panas yang kita lihat sebagai meteor, atau biasa disebut bintang
jatuh. Lalu ada benda eksotis yang lewat dekat Bumi, yang terdiri dari es,
yaitu komet, yang oleh orang-orang zaman dahulu dianggap sebagai tanda dari
akan datangnya sebuah bencana alam. Komet ini membawa senyawa kimia yang
kompleks, material volatiles, yang di masa lalunya memiliki peran penting dalam
proses pembentukan Bumi.
Sistem keplanetan tata surya kita dibentuk dalam enam
skala waktu, pembentukan awan gas nebula, lalu terjadi gravitational collapse, membentuk protostar 8000 AU, gravitasi dan
pelepasan materi diluar bidang disk membentuk T Tauri star 100 AU, lalu
terbentuk pre-main-sequence star yang
terdiri dari sisa-sisa materi pada disk yang akan membentuk planet-planet, lalu
tahap akhir menjadi main-sequence star
dengan sistem planet dengan panjang 50 AU. Bumi berada pada posisi yang tepat,
sejauh 1 AU, pada posisi habitable zone
dengan salah satu parameter yang tepat, yaitu temperatur yang pas. Dalam
sejarahnya, bulan diduga kuat terbentuk akibat tumbukan Bumi dengan asteroid
besar, menghasilkan pecahan yang lalu terbentuk menjadi Bulan, hal ini
dibuktikan dengan karakteristik komposisi batuan bulan yang sama dengan Bumi,
dan hal ini menunjukkan bahwa bulan lahir dari Bumi dengan mekanisme sebuah tumbukan
Bumi dengan asteroid. Bulan memiliki peran kepada Bumi sebagai
satelitnya karena ada interaksi gravitasi. Lama satu hari sebesar sebesar
definisi 24 jam salah satunya merupakan kontribusi dari Bulan, tanpa Bulan,
Bumi dapat berotasi lebih cepat, rotasi lebih cepat dapat merubah jarak
Bumi-Matahari, kalau rotasi dan jarak dengan matahari berubah, maka mekanisme
waktu akan berubah total, waktu bisa menjadii lebih cepat, suhu Bumi akan
mendingin karena menjauh dari matahari. Bulan juga menstabilkan presesi Bumi,
sehingga inklinasi 23,50 menjadi lebih stabil. Tanpa Bulan, kehidupan
di Bumi akan berubah,dan bahkan dapat mengganggu keberlangsungan kehidupan.
Keseimbangan kehidupan di Bumi dibentuk oleh sistem Bumi-Bulan-Matahari ini, Matahari
tidak boleh terlalu dekat karena terlalu panas bagi Bumi , Bulan tidak boleh
terlalu jauh karena presesi Bumi dapat menjadi tidak stabil. Masing-masing
menjaga posisi pada jarak yang tepat, agar keseimbangan dan kehidupan dapat
tetap berlangsung. Ukuran Matahari sangat jauh lebih besar dari Bulan, tapi dalam
pandangan kita ukurannya sama karena proporsi jarak dan ukuran dari Bulan dan
Matahari menciptakan ilusi ukuran yang sama, maka peristiwa gerhana adalah peristiwa
tidak hanya eksotis secara penampakan, tapi juga menakjubkan secara perspektif,
karena dua benda yang sama sekali berbeda jauh ukurannya, bahkan Bulan bisa
hanya terlihat hampir sebagai titik di hadapan matahari, dapat saling menutupi
dengan tepat dalam pandangan kita yang berada di Bumi. Jika kita menganggap
pembentukan sistem keplanetan dan pembentukan Bulan merupakan mekanisme
gravitasional yang acak, maka peristiwa gerhana adalah sebuah kebetulan yang
sangat terukur.
Sejak tahun 1995, sudah banyak ditemukan planet-planet
diluar tata surya (eksoplanet), karena hukum fisika berlaku universal di alam
semesta, setidaknya bukti yang ditemukan dari pembentukan planet-planet di
bintang lain mirip dengan pembentukan planet di tata surya kita. Diawali dari
awan gas, molekul, dan debu, hingga membentuk cakram yang teramati, seperti
cakram beta pictoris. Sampai tahun
2011 saja, sudah ditemukan 704 eksoplanet. Arthur C. Clarke, seorang penulis,
mengatakan “two possibilities exist: either we are alone in the Universe or we
are not. Both are equally terrifying.”
Kehidupan
Bintang
Jarak bintang pada skala dekat dihitung dengan paralaks,
sebuah metode geometri sudut, menggunakan tiga buah benda, yaitu bintang yang
dicari jaraknya, Matahari, dan Bumi, dengan perubahan posisi Bumi secara
efektif sepanjang enam bulan. Dalam astronomi, untuk saat ini kita tidak
mungkin membawa meteran atau cara lain yang mengukur jarak secara langsung,
karena memang objeknya sangatlah jauh, maka digunakan metode-metode pendekatan
terbaik agar kita mendapatkan gambaran dan data jarak dengan mempercayakannya
pada geometri dan matematika. Metode penentu jarak masih banyak, terutama untuk
jarak-jarak yang lebih jauh. Berbagai metode penentu jarak ini dapat saling
mengkoreksi terhadap kekurangan dan error
dari masing-masing metode, sehingga data jarak menjadi lebih presisi. Ilmuan
telah membangun metoda dan data jarak ini ratusan tahun, sehingga model alam
semesta dapat dibangun, maka, pengetahuan tentang jarak ini merupakan
pengetahuan krusial untuk membangun dan memperluas horison pandangan kita
tentang langit dan semestanya. Dengan jarak, kita menjadi tahu bagaimana bentuk
tata surya, bagaimana bentuk galaksi kita, dan lebih luas lagi, bagaimana
bentuk alam semesta kita sejauh yang telah para astronom capai pada jarak
terjauh.
Bintang
yang kita lihat di langit memiliki penampakan yang berbeda-beda, ada yang
terang, ada yang redup, ada yang berwarna putih, kebiruan, kemerahan. Perbedaan
warna itu bisa disebabkan oleh warna bintang yang sebenarnya, ataupun karena
proses reddening oleh debu, yang
memerahkan warna bintang, karena spektrum cahaya di panjang gelombang yang
lebih pendek dilemahkan oleh debu tersebut. Secara pengamatan, debu memang
dianggap sebagai pengganggu karena menghalangi foton-foton dari bintang di
belakangnya, sehingga tidak dapat diamati. Redupnya bintang dapat disebabkan
karena memang bintang tersebut redup, ataupun karena jaraknya yang sangat jauh.
Kecerlangan bintang ini dapat menjadi metode untuk menentukan jarak bintang
tersebut. Tingkat kecerlangan bintang ini disebut magnitudo, magnitudo ini
memiliki hukum terbalik, yaitu semakin besar nilai magnitudo, maka bintang
tersebut semakin redup. Berdasarkan spektrumnya, bintang dibagi menjadi
beberapa kelas, dari kelas biru sampai merah yaitu berurutan dari kelas O,B, A,
F, G, K, M. Bintang-bintang itu sebenarnya tidak diam, tapi semuanya bergerak
dengan gerak diri masing-masing, ke berbagai arah. Karena jaraknya yang sangat
jauh, jadi pergerakan itu tidak bisa kita amati dalam waktu yang sebentar,
karena pergerakan yang teramati dari Bumi sangatlah kecil. Baru dalam orde
ratusan ribu tahun, posisi bintang di bola langit dapat berubah dan bentuk rasi-rasi
bintang akan berubah. Mungkin kita menyangka bahwa bintang-bintang di langit
yang kita lihat terdiri dari individu-individu bintang, tapi ternyata
kebanyakan bintang itu tidak sendiri, alias memiliki ‘partner’, ini disebut
dengan bintang ganda. Mereka saling mengitari pusat masanya karena terikat oleh
gravitasi. Bintang dapat bersinar karena terdapat reaksi fusi nuklir yang terus
menerus yang terjadi di dalam struktur internal bintang.
Bintang sama seperti manusia atau makhluk apapun di dunia
ini, ia terbentuk(lahir), bersinar(hidup), lalu pecah/kolaps(mati). Sekelompok
bintang-bintang lahir dalam satu generasi yang dibentuk dalam nebula, yang
terdiri dari gas dan debu. Bintang-bintang tidak bisa memilih apakah ia akan
lahir sebagai bintang yang terang atau bintang yang redup, hal itu bergantung
dari massa nya. Dalam satu kluster, bintang-bintang terdistribusi dalam
berbagai macam kelas sesuai dengan massa nya(kecerlangan). Bintang-bintang
bermassa kecil atau redup memiliki waktu hidup lebih lebih lama, sementara
bintang yang bermassa besar punya jangka waktu hidup yang lebih sebentar, namun
di waktu yang singkat itu, bintang bermassa besar telah menerangi alam semesta
pada jarak yang lebih jauh. Bintang juga mengalami massa awal, masa utama, dan
masa akhir, yang juga mungkin beranalogi dengan massa pertumbuhan, masa dewasa,
dan masa tua, yang disebut masa pra deret utama, masa deret utama (main sequence), dan pasca deret utama.
Pada massa tuanya bintang akan menjadi sebuah bintang raksasa merah, ukurannya
membesar, namun cahayanya mulai meredup. Di tengah umur bintang yang ratusan
juta hingga milyaran tahun, kematian bintang berupa supernova hanya berlansung
dalam orde detik, hingga bisa kita bayangkan betapa besarnya peristiwa
supernova sebagai proses kematian bintang ini. Bintang bermassa besar setelah
kematiannya dapat membentuk sebuah black
hole, sebuah objek yang masih terbilang misterius yang masih dalam studi
para ilmuan, karena belum ada yang tahu bagaimana hukum-hukum fisika di
dalamnya. Dalam beberapa science fiction,
black hole dikaitkan dengan
dunia/dimensi lain.
Bintang
berorganisasi dalam kluster-kluster, ada kluster bola, ada kluster terbuka.
Kluster terbuka punya bentuk yang tidak beraturan, banyak diisi oleh
bintang-bintang muda, beranggotakan sedikit bintang, 100 sampai 1000 bintang,
contohnya kluster/gugus pleiades. Sementara kluster bola punya bentuk yang
teratur seperti bola(sirkular), dihuni oleh bintang-bintang tua, beranggotakan
lebih banyak bintang, 100.000-1.000.000 bintang.
Alam Semesta Kita
Kita hidup di umur alam semesta yang hampir 14 milyar
tahun, berdasarkan prediksi ilmuan, 6 milyar tahun lagi galaksi kita akan
bertabarakan dengan galaksi Andromeda, dan 10 milyar tahun berikutnya alam
semesta kita punya opsi untuk menyusut dan kolaps dan akan mengalami big crunch yang dapat diikuti dengan
peristiwa big bang selanjutnya yang
merupakan bagian dari siklus abadi alam semesta. Materi-materi dan unsur-unsur
kimia kompleks disintesis pada bintang-bintang, atau terbentuk di medium antar
bintang.
“Our
Sun is a second- or third-generation star. All of the rocky and metallic
material we stand on, the iron in our blood, the calcium in our teeth, the
carbon in our genes were produced billions of years ago in the interior of a
red giant star. We are made of star-stuff.” –Carl Sagan
Komposisi penyusun tubuh kita jika dilihat dari perspektif
kosmologi memang berasal dari bintang-bintang generasi sebelum matahari, dimana
bintang-bintang tersebut berasal dari debu-debu antar bintang, maka bisa
dikatakan bahwa kita pun berasal dari debu, sesuatu yang dianggap sepele, ternyata
adalah sejarah diri kita. Keberadaan segala kompleksitas masa sekarang dibentuk
dari proses-proses penting masa lalu. Kalau kita berpikir ‘untuk apa alam
semesta seluas ini jika kita hanya tinggal di Bumi yang kecil?’, justru di Bumi
yang kecil ini ada unsur waktu dan ruang dari seluruh semesta secara tidak
langsung. Kalau alam semesta seluas ini tidak ada, maka kita pun tidak akan
ada. Dari semua materi yang telah diketahui, ternyata itu hanya sekitar 4% dari
isi alam semesta, dimana sisanya adalah, sebenarnya lebih tepat menyebut materi
yang kita ketahui(baryonic) adalah sisa, dimana sebagian besar lainnya
adalah cold dark matter (25%), dan dark energy (70%), dimana
materi dan energi yang tidak luminus itu diketahui karena punya interaksi
secara gravitasional. Lalu, jika ilmu fisika, matematika, astronomi, kosmologi,
dan sains lainnya berasal dari pengetahuan yang hanya 4%, bagaimana kita mampu
menjelaskan secara saintifik bagian alam yang 95% nya lagi? Bagaimana fisika
yang 4% itu dapat diterapkan di bagian yang 95% ? Sepertinya kita perlu banyak
mendefinisikan ulang banyak hal, seperti; apa itu ruang? Apa itu massa? Karena
kalau kita tidak keluar dari persepsi 4% itu, mungkin kita tidak akan pernah
memahami yang 95%, ataukah kita memang tidak mungkin memahami yang 95% itu
karena otak kita sendiri hanya tersusun atas materi yang 4% itu? Masih banyak
pertanyaan yang belum terungkap, maka disanalah letak sains untuk mencoba
mengungkapkannya. Karena akan selalu ada misteri, maka akan selalu ada sains
untuk mencoba menjelaskannya.
"I view this universe not as a 'cosmic joke',
but as a meaningful entity-made in such a way as to generate life and mind,
bound to give birth, to thinking beings, able to discern truth, apprehend
beauty, feel love, yearn after goodness, define evil, experience mystery." -Christian de Duve
“The universe begins to look like a great thought
than a great machine”-James Jeans
Jika kehidupan ini adalah kecelakaan kosmik, maka ini adalah kecelakaan
yang paling indah.
0 comments:
Post a Comment