Kita
lihat alam ini, semuanya bergerak. Burung berterbangan, kuda berlari, kupu-kupu
hinggap dari bunga satu ke bunga lain, awan bergerak, sungai mengalir, dataran
bergeser, matahari terbit dan tenggelam, semuanya memiliki irama, memiliki
kecepatan masing-masing. Sekarang kita tanya, bagaimana dengan manusia? Manusia
bergerak, di zaman modern seperti sekarang, manusia tidak lagi menaiki unta,
tidak lagi menaiki kuda, tapi menggunakan mesin-mesin untuk berpindah, mobil,
pesawat, dan yang lainnya. Pernahkah kita bertanya, apakah kecepatan bergerak
manusia mengganggu keseimbangan alam? Dimana di dalamnya terdapat
pergerakan-pergerakan alam yang terbatas, keterbatasan makhluk lain dalam
bergerak itu menciptakan keharmonisan. Apakah kecepatan manusia bergerak
merusak keharmonisan itu?. Manusia telah bergerak melebihi kecepatan kuda
berlari diatas tanah, manusia telah melampaui kecepatan burung dalam terbang di
udara. Coba bayangkan, bumi tanpa manusia, dimana pergerakan alam telah teratur
dengan harmoninya, tidak ada yang melampaui batas. Lalu, apakah manusia perlu
membatasi kecepatannya yang sesuai dengan alam? Adakah yang dinamakan batas
itu?
Sekarang
kita lihat, apa dampak dari pergerakan manusia yang sedemikian cepatnya;
banyaknya kendaraan menghasilkan polusi udara yang menipiskan ozon. Lihat,
sudah berapa juta orang meninggal akibat kecelakaan di jalan dengan kendaraan
bermotor? Berapa kali tragedi pesawat terbang yang terjadi dan itu
menghilangkan korban yang entah kemana? Apakah ini sebuah peringatan bagi
manusia? Apakah kecelakaan-kecelakaan semacam itu pernah terjadi ketika manusia
masih menunggangi kuda dahulu? Manusia
menciptakan teknologi hanya berdasarkan asas manfaat untuk dirinya, hanya untuk
kepentingan ekonomi dan kekayaan dirinya, tanpa mempertimbangkan interaksinya
dengan keseimbangan alam. Seharusnya, teknologi adalah menambah keindahan alam.
Lalu,
apakah kecepatan pergerakan manusia perlu dibatasi? Entah, penulis pun tidak
tahu, karena penullis hanya menggunakan sudut pandang rasa. Untuk mendapatkan
penjelasan ilmiah, tentunya perlu dilakukan sebuah penelitian, misal, dengan memperhitungan
jumlah kendaraan, kecepatan rata-rata yang dihasilkan, sumber energi yang
dibutuhkan untuk kecepatan tersebut, lalu berapa pembuangan yang dihasilkan
dari kecepatan tersebut, lalu perlu juga mengetahui data batas polusi atau
buangan yang dapat dinetralisir oleh alam, dan ini harus secara makro, dan yang
lainnya, atau mungkin bukan dari segi kecepatannya, tapi dari jumlahnya, atau
pertimbangan-pertimbangan lainnya. Terkadang, penjelasan ilmiah terlalu lambat
untuk mengetahui sebuah kesalahan.
Penulis
membayangkan, jika kecepatan maksimal manusia di darat adalah secepat kecepatan
makhluk darat, kecepatan maksimal manusia di udara adalah secepat makhluk
udara, pergerakan dibatasi mengikuti batas kecepatan dan keseimbangan
pergerakan alam dan makhluk lain, kehidupan ini tidak akan bising, pergerakan
manusia akan lebih berharmoni dengan alam, kesibukan akan berkurang,
perpindahan manusia akan wajar, kepadatan akan berkurang, dan dampak lainnya,
sehingga kehidupan akan lebih damai, manusiawi, dan selaras dengan alam. Saat
ini manusia terlalu eksklusif dengan alam. Namun kembali, ini hanyalah sudut
pandang rasa.
Kita sebagai manusia memiliki rasa dan
pengamatan, ketika sesuatu yang buruk terjadi, maka perlu kita renungi, karena
pasti ada yang salah dengan apa yang kita lakukan, pasti ada ketidakseimbangan
yang terjadi, pasti ada sesuatu yang kita langgar, pasti ada batas-batas alam
yang kita lampaui. Tulisan ini adalah sebuah renungan. Wallahua’lam.

0 comments:
Post a Comment