Suatu kata yang tak pernah ditelan
oleh waktu, tak pernah habis diperbincangkan, hampir dirasakan oleh manusia di
setiap segmen waktu hidupnya, menghasilkan berbagai warna rasa, asa, dan duka.
Tak cukup sebatas kata berdiksi menyentuh, tak cukup hanya ucapan mengayun
lembut, kurang jika hanya tindakan pengorbanan, butuh lebih dari itu, kekongkritan
yang absurd, hakikat, dan abadi. Tertanam pada dasar jiwa sebagai fitrah,
dimensi yang agung, tak ada perhitungannya, tak bisa diprediksi, terkadang
terasa mengalun lembut, terkadang terasa mengalir deras, menyayat-nyayat ruang
dan waktu, bahkan dapat membuat manusia menjadi terlihat begitu bodoh, tak
masuk akal, mabuk, hingga derita berkepanjangan. Ketika segala sesuatu
diciptakan berpasang-pasangan, membentuk dua sisi, maka disanalah ada sisi
ketiga, sisi yang tak tersentuh oleh dua sisi tersebut, yang berada di puncak
segala puncak, tak hingga, sebagai ungkapan ilmiah yang menjelaskan
ketidakterbatasan. Sang Pencipta jantan dan betina, Pencipta langit dan bumi, Pencipta
rasa benci dan Cinta. Dengan pemahaman oleh akal manusia yang terbatas dan
penuh salah, Sisi Ketiga inilah yang tak
bisa disentuh oleh apapun, yang Menciptakan dua sisi itu, kemanakah seharusnya
kita berbicara tentang benci dan cinta dimana benci dan cinta itu sendiri
adalah sesuatu yang diciptakan oleh Sang Pencipta? Ada cinta sisi ketiga yang
paling agung dimana kita mencintai Sang Pencipta cinta.

0 comments:
Post a Comment