Bibi(sebuah cerpen)



                “kring-kring”, bunyi gemerincing gelang-gelang becak terdengar dari  kejauhan, aku lari bergegas keluar rumah, bibiku datang dari sekolahnya, aku berlari kea rah becak yang belum sampai rumah, “stop-stop!” kataku sambil menengadahkan tangan kea rah becak tanda berhenti, mamang becak segera mengerem menghentikan becaknya, bibiku tersenyum, aku langsung naik dan duduk disebelah bibiku, “bawa minuman gak bi?” kataku sambil mengorek-orek tas bibi yang disimpan didepannya, “iya bawa” kata bibiku lembut, dan benar aku melihat ada minuman yakult disana, segera kuambil, “yeee” aku sangat senang, segera kuminum yakultnya, satu hal yang terbersit ketika bibiku pulang adalah: minuman segar! Hampir setiap hari bibiku membawakan minuman segar kepadaku, entah kenapa aku sangat senang dengan minuman. Pernah suatu hari bibiku tidak membawakanku minuman, entah lupa, tidak ada uang, atau tidak sempat, tapi aku tidak peduli saat itu, aku marah, ngambek, cemberut, “mana minumannyaaa??” aku merengek, “iya besok lagi ya de” jawab bibi lembut, aku tidak peduli, ketika bibi sudah masuk rumah, aku ambil sepatunya, dan kulemparkan ke dalam solokan depan rumah, aku memang keterlaluan saat itu, entah bagaimana bibi mengambilnya. Dari kecil aku memang sangat akrab dengan bibi, lebih akrab dibanding dengan orang tuaku sendiri, aku lebih memilih tidur dengan bibiku dibanding dengan orang tuaku. Bibi sedang mandi, aku tunggu diluarnya, bibi akan ganti baju, aku memaksa ikut ke kamarnya dengan berjanji aku tutup mata selama bibi ganti baju.
                Entah suatu hari, ada seorang tamu laki-laki datang ke rumahku, ia mengobrol dengan bibiku, saat ini hampir setiap seminggu dua kali laki-laki itu datang ke bibiku di rumah, mereka mengobrol, kuamati dari ruang tengah, ternyata memang laki-laki itu lagi, ia memakai kacamata kotak besar seperti detektif conan, wah, sepertinya ia wartawan, pikirku saat itu, karena selalu datang dan sepertinya selalu bertanya-tanya kepada bibiku. Lama kelamaan aku menjadi kenal dengannya, karena melihat aku sering mengintip-ngintip, bibi memanggilku, lalu memperkenalkanku kepada laki-laki itu bahwa aku adalah keponakannya. Bibi dan laki-laki itu terlihat semakin dekat dan akrab, terkadang mengobrol dengan ayahku, pernah aku diantar laki-laki itu untuk berangkat ke sekolahku, siapa laki-laki ini? Wartawankah? Kenapa terus datang ke bibiku?
                Setelah aku beranjak besar, setelah bibiku memiliki seorang anak bayi laki-laki putih yang lucu, aku mulai tersadar kalau laki-laki itu adalah ayah dari anak bayi laki-laki bibiku, dan bibiku adalah ibunya
NewerStories OlderStories Home

0 comments:

Post a Comment