Puzzle

Kita memang diciptakan untuk berpasang-pasangan, yang tentunya secara naluri mendorong kita untuk memiliki pasangan. Pertanyaannya, bagaimana kita memilih pasangan? Apa sih pasangan itu? Ada dimana dia? Saya disini mencoba memecahkan permasalahan tersebut, ini bukanlah teori, hanya pemikiran, bukan untuk dijadikan sebagai acuan, tapi untuk membuka wawasan, jika benar maka ambil manfaatnya, jika tidak, ya jangan diambil, hehe.
Jadi, setiap diri kita ini ibarat bongkahan puzzle, memiliki bentuk, dan memiliki gambar, maka kita harus menemukan puzzle yang cocok dengan diri kita, bukan puzzle dengan bentuk yang sama, tapi puzzle yang bentuknya berbeda, dimana bentuk potongan kita akan menutupinya, dan bentuk potongannya akan menutupi kita, tak hanya harus cocok bentuk agar puzzle dapat bersatu, tapi juga kecocokan dan kesamaan gambar. Apa yang dimaksud dengan bentuk dan gambar dalam analoginya pada diri kita? Bentuk bisa dikatakan sebagai fisik, fisik seorang laki-laki cocok dengan fisik seorang perempuan, sehingga bisa bersatu sebagai puzzle, tentu hal ini tidak perlu dipertanyakan lagi, tapi jika ingin lebih spesifik, kecocokan fisik ini bisa diidentifikasi, jika puzzle dapat dipasangkan karena perbedaan bentuk, maka pada manusia juga seperti itu, yaitu kecocokan orientasi fisik. Jika bongkahan puzzle kita hanya satu, mengapa kita dari dahulu suka dengan beberapa orang? Rasa suka yang selama ini kita rasakan hanyalah karena orientasi fisik, hanya karena kecocokan bentuk puzzle, kecocokan bentuk puzzle ini akan menghadirkan rasa suka secara otomatis, kita sebut saja sistem 1, yaitu sistem spontan, tanpa berpikir, maka kita bisa suka dengan siapa saja yang memiliki kecocokan orientasi fisik, di jalan, di sekolah, atau dimanapun. Apakah orientasi fisik atau rasa suka ini bisa menjadi pertanda bahwa ia adalah bongkahan puzzle kita? Bisa, tapi bukan satu-satunya pertanda, kita perlu perhatikan gambarnya, puzzle yang cocok tentunya tak hanya memiliki bentuk yang cocok, tapi juga memiliki kesamaan gambar, betul, bukan?
Lalu apa yang dimaksud dengan gambar? Bayangkan jika kepingan puzzle tidak memiliki gambar, apa yang terjadi? Ia tidak bisa disebut sebagai puzzle, ia sama saja seperti kardus-kardus lain, bukan puzzle. Nah, lalu apa yang ada pada diri manusia, jika itu tidak ada, maka kita tidak bisa disebut manusia? Jawabannya adalah akal, kita disebut manusia karena kita memiliki akal, jika kita tak punya akal kita tidak bisa disebut manusia, jika tak punya akal, kita sama seperti hewan-hewan yang hanya mengandalkan naluri, benar? Nah, maksud dari gambar dalam puzzle adalah akal pada diri kita, kecocokan gambar adalah kecocokan akal. Jika ada kepingan dua buah puzzle yang bergambar pohon, jika hanya ada satu kepingan, belum bersatu, atau setengah pohon, kepingan puzzle itu belum memiliki makna, belum utuh, jika sudah digabungkan dengan kepingan satunya lagi, maka akan terbentuk gambar yang utuh, memiliki arti, makna, dan manfaat. Untuk kasus akal pada manusia, apa yang dimaksud dengan akal pada manusia? Akal pada manusia dapat diwakili atau diartikan sebagai cara berpikir, kedewasaan, sikap, sifat, intelektual,  kita semua memiliki hal tersebut dan memiliki karakterisitiknya masing-masing, setiap komponen tersebut(cara berpikir, kedewasaan, sikap, sifat, intelektual) adalah tidak sempurna pada diri kita, atau masing-masing memiliki kekurangan, dan juga juga memiliki kelebihan. Kita memiliki kelebihan cara berpikir masing-masing, tapi juga memiliki kekurangan, kita memiliki kelebihan kedewasaan dalam hal tertentu, tapi juga tidak dewasa dalam suatu hal lainnya, kita memiliki kelebihan dalam bersikap, tapi juga punya kekurangan dalam bersikap kepada suatu hal yang lain, kita punya kelebihan intelektual, tapi kurang dalam hal lain, kita punya kelebihan dalam sifat tertentu, tapi kurang dalam sifat tertentu lainnya, kelebihan dan kekurangan yang kita punya itu adalah bentuk kepingan puzzle yang setengah, setengah gambar pohon, belum memiliki arti dan makna yang utuh, maka kita butuh kepingan puzzle yang satu lagi, agar kepingan puzzle itu melengkapi dan menutupi kekurangan-kekurangan diri kita, dan kelebihan-kelebihan diri kita akan menutupi kekurangan-kekurangan dirinya, jika bersatu maka jadilah kepingan yang saling melengkapi satu sama lain, membentuk suatu gambar yang bermakna dan memiliki arti, pada saat itulah kita telah menyempurnakan diri sebagai manusia, atau dalam agama disebut telah menyempurnakan separuh agama, separuhnya lagi adalah bagaimana kita menjadikan kesempurnaan kita sebagai manusia yang telah bersatu untuk berbakti padaNya.  Jika kita orangnya agak tempramental, maka pasanganmu adalah yang cenderung tenang, jika kita suka melucu, maka dia adalah penikmat kelucuanmu, bukan sesama pelucu, jika kita cenderung tegas, maka dia cenderung plin plan, jika kita kurang peka, maka dia adalah orang yang peka, begitulah konsep saling melengkapi, saling memberi dan menerima, jika bersatu, kekurangan kita akan ditutupi olehnya, dan kelebihan kita akan menutupi kekurangannya.  Berpasangan bukanlah masalah menerima atau enaknya saja, ini hawa nafsu namanya, tapi masalah memberi dan berkorban, maka dari itu, berpasangan dapat bernilai ibadah karena terdapat unsur memberi dan berkorban, dan memang dianjurkan dengan niat beribadah. Lalu siapakah dia? Lihatlah gambar dirimu, dan lihatlah gambar orang yang kau suka, apakah cocok? Atau ada yang bolong? Atau saling menimpa? Apakah saling melengkapi?
Proses mengenali gambar atau mengenali akal, atau mengenal seseorang ini bukanlah proses yang sebentar, mungkin minimal selama 1 tahun waktu yang dibutuhkan untuk mengenali gambar seseorang, jadi kemungkinan besar kepingan puzzlemu bukanlah orang lain di luar sana, melainkan orang sekitarmu, yang Allah pertemukan dalam suatu sistem yang sama, dan sudah kau kenal sejak lama. Jika kita harus mencari kepingan puzzle itu diluar sana yang entah berada dimana, dari sekian ratus juta bahkan miliar, berarti peluang menemukan puzzle yang cocok adalah sekitar 1/miliaran, ini hal yang cukup mustahil, mencari pasangan juga bukan merupakan hal yang paling urgent di hidup kita, karena kita punya kesibukan masing-masing, Allah tahu itu, maka ada peran Allah disini, oleh Dia kita dipertemukan dengannya, di lingkungan kita, di suatu sistem yang kita ikuti, tinggal memilih dan berusaha mana puzzle kita yang berada di sekitar kita itu, jodoh itu pilihan, lihatlah bentuk puzzle dengan ditandai rasa suka padanya tanpa kendali kita, lalu cocokkanlah gambarnya.
Kita dianjurkan untuk menikah bukan karena kecantikan, harta, atau kedudukan, tapi karena agamanya, agama adalah fitrah, jika kita menikahi seseorang hanya karena kecantikan, kedudukan, atau harta, berarti kita hanya ingin menerima saja atau mengedapankan hawa nafsu, tidak ingin memberi, jika menikah karena fitrah, karena sifat, kelebihan, dan kekurangan, untuk saling menutupi dan melengkapi, niscaya kita beruntung dan berbahagia, dengan begitu kita telah sempurna sebagai manusia, dalam arti telah separuh memenuhi agama(fitrah), kita yang telah sempurna menjadi manusia, tinggal melengkapi separuh agamanya(fitrah) lagi dengan mengarahkan kesempurnaan kita sebagai manusia untuk beribadah padaNya, menggapai ridhoNya, dan masuk kedalam surgaNya bersama-sama, hingga sempurnalah agama kita.
Sekian, semoga tulisan ini bermanfaat, dapat membantu, agar setiap diri kita menemukan puzzle yang sesuai, dengan begitu, tak ada kasus-kasus perpisahan yang menyakitkan. Jika ada kasus perpisahan berarti ia bukan puzzlenya, berarti di tempat lain ada puzzle yang cocok dengan kasus pertama yang mengalami kasus perpisahan, jika kita salah memasangkan puzzle, maka ada puzzle lain pula yang salah pasang, jika ada dua puzzle yang salah pasang, maka akan ada empat kasus perpisahan.
Mohon maaf jika ada kesalahan, yang benar datangnya dari Allah, ambil manfaatnya, yang kurang semata dari kekurangan saya, jangan diambil. Tulisan ini hanya ingin membuka wawasan berpikir, berkontemplasi, bermetafora, bahwa alam ini menyediakan hukum-hukum yang begitu unik dan indah untuk kita pelajari dan kita renungkan, semua adalah milik dan ciptaanNya. Wallahua’lam.



NewerStories OlderStories Home

0 comments:

Post a Comment