Alur
singkatnya, Tuhan menciptakan manusia, lalu Dia menciptakan aturan berkehidupan
yang dinamakan agama, atau sebut saja aturan kebenaran. Maka tidak tepat jika
ada yang mengatakan bahwa semua agama itu benar, dengan kata lain mengatakan
bahwa aturan kebenaran itu banyak, bagaimana mungkin sebuah barang elektronik,
memiliki dua buku petunjuk pemakaian yang berbeda, lalu keduanya bisa
digunakan? Jika salah satu agama itu benar, maka ia tidak bisa disejajarkan
dengan yang lain dalam arti keberagaman agama, aturan kebenaran haruslah, dan
memang sepantasnya berada pada “puncak” yang benar bersendirian, tidak
disejajarkan dengan aturan kebenaran versi lain. Setiap manusia memiliki keyakinan
masing-masing, kami punya keyakinan, dan mereka punya keyakinan. Aturan kebenaran
pastilah yang sesuai dengan manusia, sesuai dengan akal, fisik, dan dengan
hati. Aturan kebenaran pastilah menjemput kepada setiap manusia, bagaimana ia
tidak menjemput sementara hati terdalamnya pastilah menginginkan kebenaran?
Pada
zaman sekarang, manusia mengedepankan sains dan teknologi yang berbasiskan pada
pembuktian ilmiah. Secara kasar, pola pikir yang cenderung terbentuk adalah
pola pikir ilmiah, bahwa segala sesuatu mesti terlihat, teridentifikasi,
terindera, terukur, dan sebagainya. Tapi ternyata, pada dimensi agama, tidak
akan semuanya mampu terindera dan terbukti secara ilmiah, karena akal logika
manusia terbatas. Sepertinya Tuhan menciptakan batas pada logika dan indera
bahwa mereka tidak akan dapat melewati batas sampai masuk pada area spiritual, atau dengan kata lain, bisa dikatakan bahwa sains memiliki batas.
Area spiritual adalah area suci, yang tidak akan bisa dijangkau oleh keilmiahan manusia yang sebenarnya lemah dan sombong. Pada area spiritual, yang ada adalah unsur-unsur spiritual itu sendiri dalam bentuk ketaatan, ketundukkan, kepasrahan, kekuatan, dan lain sebagainya. Selama kita hanya menyandarkan diri bahwa segala sesuatu itu harus “terbukti”, kita tidak akan pernah masuk pada area spiritual. Area spiritual hanya dapat terbukti oleh sisi spiritual manusia itu sendiri, bukan dengan otak ilmiah manusia. Kelemahan logika ilmiah mengisyarakatkan ketundukannya pada agama, bahwa ia harus “bersujud” kepada sisi spiritual yang agung, sehingga manusia selayaknya melakukan sujud sebagai simbol ketundukannya pada dimensi spiritual, dimensi agama, dimensi Tuhan.
Banyaknya bencana dan kerusakan di muka bumi ini adalah akibat manusia yang melupakan Tuhan, karena sisi spiritual yang mati, karena tertutupi oleh kesombongan logika ilmiah yang sebenarnya begitu lemah. . Jika manusia kembali pada Tuhannya, mencari jalan untuk menujuNya, atau setidaknya berusaha taat pada aturanNya, sehingga "menyalakan" sisi spiritualnya, jika Dia mengizinkan, Dia akan berikan ketentraman dan kedamaian di segala penjuru ruang, dan pada setiap hati-hati manusia yang terikat dekat denganNya. Penulis pun sedang belajar. Wallahua’lam.
Area spiritual adalah area suci, yang tidak akan bisa dijangkau oleh keilmiahan manusia yang sebenarnya lemah dan sombong. Pada area spiritual, yang ada adalah unsur-unsur spiritual itu sendiri dalam bentuk ketaatan, ketundukkan, kepasrahan, kekuatan, dan lain sebagainya. Selama kita hanya menyandarkan diri bahwa segala sesuatu itu harus “terbukti”, kita tidak akan pernah masuk pada area spiritual. Area spiritual hanya dapat terbukti oleh sisi spiritual manusia itu sendiri, bukan dengan otak ilmiah manusia. Kelemahan logika ilmiah mengisyarakatkan ketundukannya pada agama, bahwa ia harus “bersujud” kepada sisi spiritual yang agung, sehingga manusia selayaknya melakukan sujud sebagai simbol ketundukannya pada dimensi spiritual, dimensi agama, dimensi Tuhan.
Banyaknya bencana dan kerusakan di muka bumi ini adalah akibat manusia yang melupakan Tuhan, karena sisi spiritual yang mati, karena tertutupi oleh kesombongan logika ilmiah yang sebenarnya begitu lemah. . Jika manusia kembali pada Tuhannya, mencari jalan untuk menujuNya, atau setidaknya berusaha taat pada aturanNya, sehingga "menyalakan" sisi spiritualnya, jika Dia mengizinkan, Dia akan berikan ketentraman dan kedamaian di segala penjuru ruang, dan pada setiap hati-hati manusia yang terikat dekat denganNya. Penulis pun sedang belajar. Wallahua’lam.

0 comments:
Post a Comment