Pendidikan
memiliki tingkatan, semakin kita ikuti akan semakin tinggi, dari SD, hingga
gelar profesor. Tingkatan ini menggambarkan ketinggian ilmu yang dimiliki oleh
seseorang. Dalam sebuah jabatan, semakin berilmu seseorang, semakin tinggi ia
memiliki jabatan, semakin tinggi ia mengemban kepemimpinan. Kata yang digunakan
dalam menggambarkan suatu tingkatan ini adalah kata “tinggi” dan “rendah”, yang
secara analogi posisi menggambarkan posisi atas bawah. Semakin berkualitas
seseorang, semakin ia berada di atas, dan sebaliknya. Inilah konsep yang kita
pahami. Namun agama dan alam seperti mengajarkan konsep yang berkebalikan,
pemimpin itu bukan mengatur dari posisi atas, menunjuk-nunjuk orang yang
dibawahnya, lebih tepatnya pemimpin itu seperti penggembala domba, ia berada di
tengah-tengahnya, dan mengarahkan. Ia bukan berada pada posisi “atas”, tapi
berada posisi paling “dalam”, paling merasakan langsung posisi lapangan, berada
pada titik tengah koordinasi. Semakin berilmu seseorang, sejatinya bukan ia
semakin jumawa, yang mencirikan “atas”, tapi justru semakin bersatu dengan
sekitar, semakin mampu menyesuaikan, semakin mampu selaras, semakin mampu
berinteraksi dengan orang sekitar dan alam sekitar, semakin mampu beresonansi
dengan sekitar, inilah yang mencirikan “kedalaman”, bukan “ketinggian”. Semakin
tinggi jabatan, seharusnya semakin mampu merendah atau semakin “dalam”, bukan
semakin eksklusif. Lihatlah struktur atom, struktur alam ini ternyata
menggambarkan kedalaman, bukan ketinggian, kedalaman menuju inti, atau hakikat
segala sesuatu. Matahari yang menjadi pusat tata surya dan pemberi kehidupan
adalah inti yang dikelilingi oleh kehidupan planet, semakin jauh dari matahari,
maka cahaya kehidupan semakin redup. “Ketinggian” sebenarnya berarti “kedalaman”.
Hukum alam ini memang menarik, memberikan
konsep biner dan konsep paradoks. Kita anggap arti “tinggi” sama dengan arti
“dalam” sekarang. Maka semakin tinggi ilmu seseorang, akan semakin merendah ia,
semakin tinggi ilmu, akan semakin mampu berinteraksi dengan sekitar, semakin
tinggi ilmu akan semakin bersatu dengan sekitar, bukan semakin eksklusif,
semakin tinggi ilmu akan semakin nyaman dan menyenangkan bagi banyak orang,
semakin tinggi ilmu akan semakin banyak menyembunyikan diri, tapi orang-orang
malah akan semakin tahu, semakin tinggi ilmu semakin tidak merasa eksklusif,
akan semakin merendah ia berjalan di muka bumi, semakin berilmu, justru ia
berusaha untuk mensejajarkan diri dengan orang lain, bukan berusaha
mengekslusifkan dirinya, semakin berilmu, semakin ia mendekati sifat-sifat
Tuhan, pengasih, penyayang, dekat, dan sifat-sifat indah lainnya yang
tergambarkan dalam akhlaknya. Andai konsep agama dan struktur alam ini manusia
ikuti dalam pendidikan, konsep kekuasaan, dan konsep-konsep kehidupan lainnya. Semoga.
Dan akan segera terjadi. Wallahua’lam.

0 comments:
Post a Comment