Bahasa, Tingkatan, dan Susunan



          
          Tuhan ciptakan dunia ini, Dia ciptakan kefanaan, Dia pun ciptakan alam abadi. Kefanaan ini sementara, kefanaan ini rendah. Dia “turunkan” bentuk alam yang tinggi kepada bentuk-bentuk alam yang rendah, seperti alam yang kita tempati sekarang, yang merupakan alam rendah, bukan alam tinggi, karena segala sesuatunya berproses, butuh waktu, butuh usaha, butuh jarak, dan akan hancur, inilah kerendahan. Semuanya yang berada pada alam tinggi Tuhan “turunkan” menjadi berbagai bentuk “bahasa”, ada bahasa geometri, bahasa materi, bahasa lisan, bahasa bau, bahasa rasa, bahasa tulisan, dan berbagai bahasa yang mampu tertangkap oleh manusia. Alam semesta ini adalah turunan dari “bahasa tinggi” alam yang lebih tinggi, dan kita menempati alam semesta rendah yang sekarang ini untuk sementara. Maka Tuhan menciptakan manusia dengan ukuran dan potensinya masing-masing, dimana manusia ini dapat membahasakan atau menurunkan bahasa alam tinggi menjadi bahasa alam rendah. Maka manusia itu memiliki kemampuan yang bertingkat dalam rangka menyusun kerangka bahasa, agar bahasa yang tinggi mampu diterjemahkan ke dalam bahasa rendah. Semakin rendah bahasa, akan semakin rumit, akan semakin butuh usaha, karena dibutuhkan kemampuan untuk “menerjemahkan”. Semakin tinggi bahasa, akan semakin sederhana, namun semakin mendalam terhadap aspek-aspek kemanusiaan. Berikut adalah tingkatan kemampuan bahasa manusia yang tinggi hingga kemampuan bahasa manusia yang rendah. Pertama adalah kemampuan manusia menangkap pesan Tuhan, kemampuan manusia dalam berempati satu sama lain, kemampuan manusia mengendalikan emosinya, kemampuan manusia untuk menciptakan kreativitas, kemampuan manusia dalam menerka ruang, kemampuan manusia berlogika, kemampuan manusia dalam hal teknis, kemampuan manusia menghafal sesuatu, kemampuan/kekuatan fisik manusia. Setiap manusia memiliki kelebihan atau kecenderungan masing-masing terhadap kemampuan-kemampuan tersebut. Antar kemampuan tersebut harus tersambung, harus terikat, dari yang tertinggi sampai yang terendah. Tinggi rendah disini bukan ukuran baik-buruk, tapi tentang bahasanya masing-masing. Maka pesan Tuhan harus terserap pada sifat-sifat manusia, sehingga manusia mampu mengendalikan emosinya, emosi yang baik itu harus tertuang pada suatu bentuk kreativitas, pada kebutuhan-kebutuhan manusia, seperti sandang, pangan, papan, untuk menciptakan kreativitas itu dibutuhkan suatu ukuran dan perhitungan, ukuran dan perhitungan itu harus tertuang dengan kemampuan teknik yang baik, itu semua tidak akan ada tanpa ada pencatatan, atau perekaman data, dan akhirnya dikerjakan secara langsung dalam bentuk benda-benda seperti rumah, pakaian, jalan, hiasan, dan lain sebagainya. Itulah urutan gambaran terikat dan tersambungnya bentuk kemampuna-kemampuan manusia. Setiap kemampuan memiliki bahasanya masing-masing, dan mampu saling menerjemahkan. Ibaratnya, sebuah ukiran batu harus memiliki ikatan dengan suatu pesan Tuhan, yang ditengahnya terdapat kreativitas, ukuran, kerjasama, kesabaran, ingatan, penentuan ruang, dan sebaliknya, suatu pesan Tuhan harus tertuang dalam bentuk suatu materi yang dibutuhkan oleh manusia pada alam rendah ini.
                Berbagai bentuk kerusakan yang terjadi di alam dan bumi ini adalah karena tidak terikatnya bahasa, materi yang tidak terikat pada pesan Tuhan, pesan Tuhan yang tidak tertuang dalam materi. Ibaratnya teknologi tanpa kreativitas itu hampa, atau kreativitas itu harus tertuang dalam teknologi misalnya, itu salah satu contoh bentuk keterikatan yang dibutuhkan pada level kreativitas dan logika.
                Tuhan tidak menciptakan manusia asal-asalan, Dia mengukurnya, menyusun dengan susunan yang sempurna, agar manusia mampu hidup eksis di alam ini, kita perlu mengerti tingkatan-tingkatan bahasa ini, bahwa tingkatan bahasa ini ada untuk saling terikat, bersinergi membentuk susunan ideal, indah, berputar, berotasi, menujuNya. Wallahua’lam.

NewerStories OlderStories Home

0 comments:

Post a Comment