Manusia
diciptakan dengan sidik jari yang berbeda-beda, tidak ada satupun manusia di
dunia ini yang memiliki sidik jari yang sama, hal itu itu merupakan salah satu
bentuk Kebesaran Allah SWT, selain dari sidik jari, di dunia ini tidak ada
manusia yang benar-benar sama dari segi wajah, sifat, watak, kemampuan,
pembawaan, tidak ada yang sama persis, pasti ada bedanya. Manusia memiliki
potensi dan kemampuannya masing-masing, ada yang jago matematika, jago
olahraga, ada yang jago bahasa, ada yang
jago teknologi, ada yang jago seni, dan kemampuan-kemampuan lainnya. Kemampuan
manusia itu bervariasi, berbeda-beda. Namun jika kita melihat sistem pendidikan
yang ada sekarang, mungkin 90% pendidikan memperlakukan dan menuntut kita
dengan cara yang sama, di sekolah-sekolah, semua murid harus bisa semua mata pelajaran
terutama seperti matematika, fisika, kimia, biologi, harus bisa juga mata
pelajaran seperti seni, olahraga. Seorang
anak yang jago matematika dan kurang suka olahraga dipaksa harus bisa olahraga,
jika tidak, itu akan merusak nilai rapot yang mengharuskan anak mencapai nilai
tertentu di semua mata pelajaran termasuk pelajaran olahraga yang ia tidak bisa,
begitu juga sebaliknya, seorang anak yang suka olahraga tapi tidak suka
matematika diharuskan bisa matematika dengan nilai tertentu. Anak yang kurang
bisa olahraga atau seni misalnya, akan kesulitan untuk memenuhi tuntutan nilai
yang harus dicapai, anak yang kurang bisa matematika juga misalnya, akan
mengalami kesulitan, bahkan merasa tertekan karena di mata teman-temannya,
tidak bisa matematika berarti bodoh. Disini dapat dilihat, cara-cara pendidikan
sekarang menciptakan persepsi pintar dan cerdas yang homogen, misal, orang yang
jago matematika dan fisika itu adalah orang yang pintar, sementara orang tidak
bisa berarti bodoh, persepsi seperti ini tertanam di setiap anak, sehingga
setiap anak mengejar arti pintar dan cerdas yang terbentuk itu, sehingga mereka
lupa, orang tuanya juga lupa, bahwa setiap anak memiliki potensi dan
kemampuannya masing-masing yang unik dan luar biasa, mereka mengejar persepsi
pintar menurut pendidikan formal, sehingga mereka melupakan dan tidak
mengembangkan potensi yang sebenarnya luar biasa yang dimilikinya, hingga
lama-kelamaan si anak benar-benar tidak mengenali potensi yang sebenarnya ada
pada dirinya, karena keburu terkubur oleh waktu, sungguh disayangkan.
Setiap
anak itu berbeda, variasi, unik, maka sebenarnya kita tidak bisa menyamaratakan
cara mendidik mereka, menuntut mereka dengan hal yang sama, membentuk persepsi
pintar dan cerdas yang sama pada mereka, karena mereka memiliki kecerdasannya
masing-masing. Pendidikan saat ini lebih banyak menyamaratakan penyikapan dalam
mendidik anak bangsa, anak bangsa yang berjumlah jutaan, yang memiliki jutaan
potensi yang luar biasa dan unik, dibakukan dalam cara mendidiknya, sungguh
sayang, mereka bukanlah robot, mereka adalah makhluk-makhluk berwarna, anugerah
dari Allah. Penulis berharap dunia pendidikan harus lebih memahami ini, dan
lebih bijak dalam melaksanakan sistem pendidikannya, jangan sampai
potensi-potensi anak bangsa redup, terkubur. Anak-anak itu ibarat warna-warna,
maka jangan kita mendidik hanya satu warna saja, tapi berikan warna-warna yang
bermacam-macam pula, agar mereka menjadi indah. Wallahua'lam

0 comments:
Post a Comment