Zaman
sekarang sudah sangat beda dengan zaman dahulu, kecanggihan teknologi informasi
yang membuatnya berbeda, informasi hilir-mudik, tidak hanya informasi global,
tapi juga informasi individual lewat berbagai macam sosial media, setiap orang
bisa menceritakan apapun kepada orang lain secara real time, tentang
pikirannya, perasaannya, keluhannya, kegiatannya, dan lain sebagainya, kemudahan
seperti ini memang memiliki keuntungan bagi kita, kita menjadi begitu mudah
berinteraksi dengan teman, keluarga, atau siapapun itu. Ikatan sosial semakin
kuat, walau hanya di dunia maya, jika interaksi sosial ini diibaratkan “medan”,
maka bisa dikatakan “medan” sosial di zaman sekarang ini begitu kuat,
garis-garisnya semakin kuat, maka dampaknya adalah, setiap orang semakin besar
harapannya kepada orang lain, ya benar, karena begitu mudahnya kita
berinteraksi dengan banyak orang, maka harapan yang tercipta dalam diri kita kepada
orang lain semakin besar, kita ingin apa yang kita lalui di kehidupan kita
diketahui orang lain, kita ingin apa yang kita keluhkan orang baca dan
menanggapi, kita ingin pemikiran kita membuat orang ngangguk-ngangguk, kita
ingin kesenangan yang kita alami orang lain tahu, kesedihan yang kita alami
orang lain tahu, kita semakin ingin untuk dipuji oleh banyak orang, benar? Memang
itu adalah hal yang wajar karena itu adalah naluri manusiawi, tapi tetap harus
menjadi hal yang perlu direnungkan,karena jika berlebihan itu tidak baik,
karena sebenarnya naluri manusia tak hanya naluri sosial horizontal, tapi juga
naluri spiritual vertikal.
Karena
canggihnya teknologi informasi, maka dunia hiburan, dunia berita atau
informasi, sosial media, begitu booming di zaman sekarang, maka saat ini
dunia begitu horizontal, agama banyak dipisahkan dari kehidupan, berapa kali
seminggu kita belajar agama di sekolah? Berapa sks mata kuliah agama selama
empat tahun kuliah? Berapa lama kita menyisihkan waktu untuk beribadah dalam 24
jam? Dan berapa kali kita mengingat Tuhan dalam satu hari? Tidak bisa
dipungkiri, hidup kita sangat sedikit sekali berhubungan secara vertikal, saat
ini kita jauh lebih banyak berpikir dan bertindak arah horizontal, kita
disibukkan dengan aktivitas di tanah, tapi kita jarang menatap ke langit yang
sebenarnya jauh lebih luas dibanding tanah bumi, kita secara tak sadar dikekang
oleh kehidupan horizontal yang sebenarnya sempit, padahal penyusun tubuh kita
membutuhkan hubungan vertikal, spiritual, ruhani, jika tidak, diri kita akan
banyak masalah.
Mari kita introspeksi diri, jangan
sampai kita terbawa zaman, penuhi naluri vertikal kita, mari selalu perbaiki niat kita dalam beraktivitas dan ibadah karena
Allah(vertikal) bukan karena ingin dipuji manusia(horizontal), jangan adukan
masalah ke arah horizontal, tapi serahkan ke arah vertikal, serahkan kepada
Allah, jangan hanya dekat kepada manusia saja, tapi kita harus dekat kepada
Pencipta manusia, Allah Swt. Jika kita hanya berada di tanah, kita akan
mengalami kesempitan, terbatas, tapi jika kita sudah berada di langit, kita
bebas melihat ke tanah, dan bebas ingin kemanapun tempat yang berada di
bawahnya, dan tentu kehidupan di langit jauh lebih bebas dan luas dibanding dengan hanya hidup di tanah. Wallahua’lam

0 comments:
Post a Comment