Belum Memahami Perbedaan



                Ada yang namanya persamaan dan ada yang namanya perbedaan, terkadang kita sulit memahami perbedaan, perbedaan banyak dalam berbagai hal, sudah pasti perbedaan adalah  keniscayaan, seperti halnya tidak adanya sidik jari manusia yang sama, semuanya berbeda, ada hal-hal yang memang selayaknya berbeda, dan ada yang seharusnya sama, mana yang harus sama dan mana yang wajar jika berbeda pun terdapat perbedaan pendapat. Namun, kita sebagai manusia tentunya ingin menemukan jalan yang benar. Melihat jalan yang ditempuh oleh manusia itu berbeda-beda. Dari sisi pemikiran dan ideologi, ada orang yang atheis, liberalis, agamis, dan lain-lain, mengapa bisa berbeda-beda? Saya menilai perbedaan itu terjadi karena informasi yang tersimpan dalam otak manusia itu berbeda-beda. Orang-orang atheis dalam otaknya diisi dengan informasi-informasi dan logika-logika atheis yang sudah tertanam, jadilah ia atheis, begitu juga orang liberalis dan agamis.
                Pada sisi agama, pada agama Islam, dewasa ini, terlihat begitu banyak golongan-golongan dakwah, apakah perbedaan ini rahmat? Ataukah ini bentuk pecah belah yang berarti syirik seperti apa yang disebutkan Al-Qur’an? Saya tidak tahu, karena saya belum begitu memahami agama dan ilmu tafsirnya. Saat ini memang Islam ditakdirkan tidak mendominasi dunia, tersekat-sekat batas Negara dan golongan-golongan, dan sepertinya setiap golongan merasa benar apa yang ada pada dirinya. Mungkin Rasulullah bersedih melihat kondisi ummatnya sekarang yang terpecah-pecah, apalagi jika ditambah saling menjatuhkan. Saya secara pribadi merasa sedih dan kecewa dengan keadaan seperti ini, mengapa tidak bersatu? Mengapa tidak saling tolong menolong? Tidak saling membantu dan bekerja sama dalam dakwah? Semua terlihat bekerja sendiri-sendiri dan merasa golongannya lah yang mampu untuk membuat Islam bangkit, tapi mungkin permasalahannya tidak sesederhana itu. Saya menilai, setiap golongan atau pergerakan dakwah memiliki pemikiran masing-masing dalam menempuh jalannya, nah, mengapa bisa terpecah belah? Menurut saya, ibarat komputer, pemikiran-pemikiran setiap golongan itu seperti sistem operasi komputer yang terinstall di setiap otak orang-orang di golongan-golongan tertentu, sehingga persepsi kebenaran adalah menurut sistem operasi yang terinstall itu, kalau sudah begini, maka secara tidak sadar, atau bawah sadar, tentu kebenaran menurut dia adalah golongan yang ia ikuti, jalan yang ia tempuh, dan pemikiran yang dia punya. Setiap orang yang berbeda golongan telah terinstall sistem operasi yang berbeda, sehingga jika keduanya dipertemukan tentu akan bentrok pemikiran, karena isi kedua otaknya berbeda. Masing-masing merasa benar dengan apa yang dibawanya, karena sistem pemikiran yang terinstall di otaknya sudah seperti itu.
                Jika tidak ada kerendahan hati,tidak mencoba membuka pikiran dan tidak merasa mungkin saya belum tentu benar, tentu pendapat apapun yang orang lain utarakan akan dianggap salah, dan ini terjadi secara tidak sadar, bawah sadar, pemikiran yang terus menerus ditanamkan pada seseorang dalam jangka waktu lama, lama kelamaan akan tertanam di bawah sadar sehingga terciptalah persepsi kebenaran yang mengakar menurutnya, sehingga akan sangat sulit untuk setiap orang yang berbeda untuk saling memahami dan melihat dari sudut  lain, seperti sudah terkunci.  Nah pertanyaannya apakah yang telah tertanam di otak kita itu sudah benar? Yakin benar? Kalau kita sudah merasa yakin kita yang paling benar sombong sekali kita, ulama besar sekelas Imam Syafi’I saja mengatakan dirinya masih ada kemungkinan salah, menurut kita mungkin benar, ya, menurut kita, secara tak sadar pastinya, tapi cobalah untuk evaluasi, introspeksi, buka pikiran, hati, kita tidak akan benar-benar tahu mana yang benar sebelum kita benar-benar terjun dan melihat sesuatu dari sudut pandang yang lain, bukan hanya melihat dari tempat kita dan sudut pandang kita, selama kita tidak punya kemampuan menafsirkan Al-Qur’an hendaknya kita tidak mudah memasukkan pemikiran apapun begitu saja, hendaknya kita bertanya, mencoba memahami, membandingkan dengan yang lain, berguru dengan siapapun selalu, agar kita lebih memahami dan bisa lebih bijak dalam memilih, bukan terus berada pada satu tempat, ya sudah tentu jika kita hanya berada pada satu tempat kita menganggap benar apa yang ada di tempat itu karena kita tidak punya perbandingan. Dan jika kita tidak sepaham dengan seseorang, merasa orang lain yang salah hendaknya jangan menjauh, jika kita menjauh, berarti kita membiarkan saudara kita berada dalam kesalahan? Tapi ajak diskusi, hormati pendapatnya, karena bisa saja pendapat kita yang salah.
                Setiap muslim itu saudara, hendaknya kita bersilaturahmi kepada siapapun, apapun golongannya, apakah jika kita menjauhi saudara kita yang berbeda pendapat, memusuhi, membenci, bahkan menyebarkan aib dan keburukannya, apakah kita bisa disebut sebagai muslim yang baik? Memang perbedaan sulit untuk dipahami, jika melhat sejarah, Islam selalu bangkit karena adanya nabi dan rasul yang mendapat bimbingan langsung dari langit, dari Allah, apakah saat ini kita tidak mungkin bangkit sebelum adanya orang yang dibimbing dari langit oleh Allah? Imam Mahdi? Nabi Isa? Entahlah, kehidupan memang penuh misteri, dan memang kehidupan ini adalah jalan pencarian, dan nanti ada pengadilan yang agung setelah alam kehidupan ini untuk mengadili apa yang saat ini manusia perselisihkan. Dan ayat ini hendaknya menjadi renungan
Surat Ar Ruum ayat 31-32 :             
“dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, 
“yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”
Wallahua’lam
NewerStories OlderStories Home

0 comments:

Post a Comment