Mengapa diciptakan yang namanya hati, mengapa banyak hal
yang tidak bisa dilihat oleh mata, mengapa ada rasa dan hampa, mengapa ada
tangisan, kelapangan, dan senyuman. Islam menjawabnya dengan perspektif yang
luas, multidimensi, dan sesuai fitrah alam semesta beserta isinya, hanya saja
kita belum sepenuhnya menemukan dan memahaminya. Manusia terdiri dari alam
sadar dan alam bawah sadar. Detak jantung, pencernaan, aliran darah,
pengeluaran hormon, ini adalah beberapa aktivitas bawah sadar manusia di sisi
fisik, belum lagi alam bawah sadar dalam pikiran, perasaan yang tiba-tiba
muncul, suasana hati, hal ini seringkali diluar kendali kita atau bawah sadar
kita. Islam telah mengatur bagaimana mengelola keadaan sadar kita sehingga
kondisi bawah sadar kita pun terkendali, contoh: Islam mengharamkan mabuk,
karena ketika mabuk, apa yang kita lakukan, diluar kesadaran kita, tindakan
kita bisa brutal dan tidak terkendali, Islam mengatur kondisi sadar kita untuk
tidak minum-minum agar mencegah ketidaknormalan kondisi bawah sadar kita,
contoh lain, Islam mengatur agar kita menjaga pandangan, karena jika kita telah
memandang sesuatu, ada hal dalam diri kita yang tidak bisa kita kendalikan,
Islam tahu itu, tapi ini memang sulit. Contoh lain, ketika adanya hukum rajam
yang disaksikan oleh masyarakat, mungkin terdengar kejam, tapi ini menciptakan
efek jera yang luar biasa, prosesi hukuman yang ditonton oleh masyarakat akan
tertanam di bawah sadar masyarakat bahwa melakukan kemaksiatan akan mendapat
balasan yang menakutkan, sehingga tercipta keadaan masyarakat yang kondusif dan
aman. Kondisi sadar dan bawah sadar itu ibarat gunung es, yang tampak adalah
alam sadar, sedangkan dibawahnya ternyata es nya jauh lebih besar, itulah alam
bawah sadar. Mengapa aturan Islam begitu banyak dan terkadang seolah tak masuk
akal? Karena Islam tidak hanya memberi aturan pada sisi sadar manusia, tapi
Islam mengetahui betul bahwa manusia memiliki lautan alam tak sadar yang perlu
dikendalikan juga lewat aturan-aturan yang di terapkan di alam sadar untuk
kebaikan pula pada alam bawah sadar, hanya saja kita belum memahami
hubungan-hubungan antara alam sadar dan tak sadar ini, sehingga aturan Islam
terkadang kita padang sebagai aturan yang tak masuk akal dan memberatkan. Tentu
saja aturan Islam membawa akan kebaikan karena ia turun dari Sang Pencipta yang
Mengetahui betul keadaan manusia.
Seringkali
muncul pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran mengenai Islam, ini disebabkan karena sangat kurangnya pengetahuan saya
tentang agama. Pernah belajar tentang makna syahadatain/kalimat syahadat, salah
satu intinya yaitu meniadakan tuhan-tuhan lain kecuali Allah, ikhlas dan ridho
Allah sebagai Tuhannya, mengakui Muhammad Saw sebagai utusan Allah, percaya
padaNya, bersaksi, menyerahkan semua padaNya, ikhlas, ridho, kurang lebih itu
yang saya pahami. Berarti sebenarnya dengan ucapan syahadat itu, sebenarnya
kita telah berikrar dan berjanji kepada Allah bahwa kita telah pasrah, tunduk,
kepada apa-apa yang diperintahkan, dilarang, dan diaturNya. Jadi sebenarnya kita
tidak harus mengetahui dampak baik dari suatu aturan yang diturunkan olehNya,
tapi jika ada perintah, ya lakukan ikhlas karenaNya, ketika ada larangan, ya
jauhi karenaNya, karena jika kita berpatok dan banyak mengingat pada kebaikan
yang dihasilkan dari aturanNya, kita akan meragukan dan mempertanyakan perintah
untuk hal-hal yang belum kita ketahui hikmah dan kebaikannya, ini yang sering
kita(saya) alami, lalu bagaimana kita menyikapi hikmah-hikmah dibalik aturan
dan laranganNya? Kita posisikan dimana? Sejauh mana kita boleh membahasnya?
Apakah boleh kita berjuang untuk kebangkitan Islam semata-mata kita hanya
menginginkan dampak baik dari aturan Islam itu seperti keamanan, kesejahteraan,
dan kebaikan lainnya? Apakah dahulu Rasulullah memperjuangkan Islam untuk
keinginan duniawi seperti keamanan dan kesejahteraan manusia ataukah hanya
semata-mata karena Allah? Atau mengharapkan keduanya? Mana yang seharusnya kita
utamakan dalam niat dan yang sering kita ingat dan bahas ketika memperjuangkan
Islam? Saya tidak tahu, tapi saya rasa berjuang untuk Islam itu semata-mata
karena Allah, dampak-dampak kebaikan adalah suatu kepastian yang tidak perlu
banyak ditanyakan dan dibahas, Allah pun pasti mengerti apa yang manusia
butuhkan dan Dia pasti memberikan kepada hambanya sebagai haknya, tapi ini
hanya pendapat.
Untuk
memahami Al-Qur’an kita memerlukan tafsir, ada ayat yang sudah jelas maksud dan
isinya, tapi ada juga ayat yang multitafsir, kiyas, ini menimbulkan perbedaan
penafsiran, menimbulkan perbedaan kedalaman memahami ayat, ada yang memaknainya
secara mendalam, ada yang memaknainya secara langsung, dari sini kita melihat
Islam adalah agama yang luas, multidimensi, luas secara horizontal, dan dapat
dimaknai mendalam secara vertical. Untuk masalah perbedaan tafsir itu adalah
kepastian, kita lihat Islam seperti memiliki keajaiban, oleh orang-orang
awam(mungkin termasuk saya) Islam dapat dipahami ajarannya sebagai fitrah
walaupun tidak semuanya bisa dipahami dalam kondisi awam, oleh orang-orang
intelektual, Islam bisa lebih dipahami sebagai suatu aturan yang fitrah, masuk
akal, dan memiliki mukzizat(seperti pembuktian-pembuktian secara ilmiah), bagi
orang-orang yang lebih tinggi lagi, Islam kembali menjadi interest, karena
kedalaman makna yang dikandungnya, kaya ilmu yang bisa dikaji, menyimpan
misteri-misteri ilahi yang belum terungkap. Kita seolah seperti bahan bahan
yang berbeda pada prisma, Islam ibarat cahaya putih, setiap level
intelektualitas membiaskan sinarnya masing-masing sesuai kapasitasnya dan
interpetasinya, sehingga seperti pelangi, berbeda-beda tetapi tetap indah.
Terkadang muncul pertanyaan, jadi, Islam itu intinya apa sih? Apakah Islam itu
tauhiid? Apakah Islam itu akhlak? Apakah Islam itu kekuasaan? Apakah Islam itu
ibadah dan sunnah? Apakah Islam hati yang bersih dan kezuhudan? Yang mana?
Pertanyaannya yang salah, Islam itu semuanya, yang menjadi pertanyaan
sebenarnya adalah bagaimana sebenarnya tahapan untuk kebangkitan Islam? Apakah
dari akhlak dulu? Ibadah dulu? Tauhiid dulu? kekuasaan dulu? Mungkin pertanyaan
ini juga salah,mungkin semuanya harus
dimulai, tapi memang yang namanya tahapan itu ada, tahapan pada individu
masing-masing, dan tahapan pada kumpulan individu yang telah berada pada
tahapan tinggi, tahapan itu ada, setiap individu memiliki tahapan yang berbeda,
dan setiap kelompok individu pun memiliki tahapan yang berbeda, jadi, bagaimana
penjelasan tentang tahapan yang benar itu?
0 comments:
Post a Comment