Berputar, Cara Ibadah Universal


Bumi berputar mengelilingi matahari, bulan berputar mengelilingi bumi, matahari dan tata surya kita berputar mengelilingi pusat galaksi, galaksi pun berputar mengelilingi pusat tataran alam yang lebih luas, elektron berputar mengelilingi intinya. Setiap materi tersusun atas atom-atom, dimana setiap atom itu terdapat elektron yang berputar. Diri kita adalah tersusun atas materi, diri kita adalah tersusun atas atom-atom, maka tubuh kita sebenarnya terdiri dari sesuatu yang selalu berputar! Kulit kita, mata, tangan, kaki, hidung, setiap sel tubuh kita, dan semuanya adalah materi yang didalamnya terdapat putaran-putaran. Atom berputar sambil mengikuti perputaran bumi, sambil mengikuti perputaran tatasurya, sambil mengikuti perputaran galaksi, dan seterusnya. Putaran itu memiliki poros, setiap titik, setiap posisi mengacu pada pusatnya, menyimbolkan kepatuhan. Lalu dimana pusat putaran alam ini? Bisa jadi poros seluruh alam adalah Tuhan, kita mengelilingiNya, menyimbolkan keterikatan, kepatuhan, dan ingatan selalu. Putaran adalah cara ibadah universal semesta alam. Dalam agama, kita diperintahkan beribadah menghadap kiblat, dimana disana adalah putaran(thawaf), disanalah golden ratio, putaran yang mewakili ummat manusia di bumi kepada Allah.
Berdasarkan ilmu fisika, putaran merupakan pemusatan energi, dan menembakkan suatu gaya/energi kepada arah tertentu. Semua putaran yang terjadi di alam dan pada setiap materi, menembakkan suatu energi ke arah tertentu. Bisa jadi Tuhan merupakan pusat perputaran yang melambangkan keterikatan, meliputi segala sesuatu. Ibarat gravitasi yang mengikat setiap titik tubuh kita yang memiliki massa, maka kita semua tanpa terkecuali, begitu juga alam semesta, terikat kepada Tuhan, berputar, menyimbolkan keterikatan, kepatuhan, aturan. Kita tidak akan bisa lepas dariNya, maka sebenarnya tidak ada yang namanya kebebasan. Atau perputaran semua ini hanya untuk menyampaikan atau mengirimkan energi sujud, energi ibadah, ketundukkan kepada Allah di suatu tempat, singgasanaNya, dengan asumsi Tuhan bukanlah di pusat, dimana pusat masih merupakan sebuah ruang, tapi lebih dari itu, yaitu pada dimensi tinggiNya, singgasanaNya, kursiNya, dimana tidak ada satupun makhluk yang “berhak” kesana, hanya diriNya dengan keagunganNya. Putaran yang menggambarkan keterikatan, menunjukkan tinggiNya dimensi Tuhan sekaligus keMaha DekatanNya kepada makhluk. Wallahua'lam.
NewerStories OlderStories Home

0 comments:

Post a Comment