Kehidupan Adalah Proses Pembelahan



Hidup ini diciptakan berpasang-pasangan, konsep pasangan ini adalah konsep keberadaan, basis keberadaan adalah konsep pasangan atau konsep biner ini. Ada yang namanya ada, ada yang namanya tidak ada, sehat-sakit, kaya-miskin, hitam-putih, atas-bawah, dan lain sebagainya. Suatu definisi bisa ada karena adanya perbandingan, karena konsep biner ini. Ada surga ada neraka. Ada laki-laki ada perempuan. Kita hidup di alam biner, kita sendiri pun termasuk dalam bagian kebineran, kita tidak akan bisa lepas dari kebineran, dimensi kita adalah biner. Kita berpikir, bergerak, merasa, itu semua berada dalam lingkup biner. Maka manusia diberi kekuatan yang begitu besar, yaitu kekuatan untuk memilih, memilih sisi yang mana, memilih jalan yang mana, jalan yang memiliki sifat positif, atau jalan yang memiliki sifat negatif.
Asal usul nenek moyang kita adalah berasal dari surga, bukan dari neraka, namun karena suatu kejadian yang merupakan skenario dari Tuhan, kita diturunkan di dunia ini. Kita dihidupkan pada alam bercampur, dimana yang benar dan yang salah berada di tempat yang sama, kebineran yang bercampur, yaitu pada dimensi ini, di planet bumi ini. Kita dihidupkan pada tataran kebebasan untuk memilih. Coba lihat ke langit, ada planet, matahari, bintang, galaksi, dan benda-benda langit lainnya, semuanya teratur, patuh melakukan ibadahnya masing-masing. Planet dan benda-benda langit lainnya tetap mengorbit pada jalurnya. Dan coba lihat ke tataran mikroskopik, disana juga teratur, elektron berputar pada tempatnya masing-masing, terukur, ada batas-batas energi, tidak asal-asalan melintas jalur, hidup mereka patuh. Lalu diantara tataran jagad raya yang besar, dan tataran mikroskopis yang menakjubkan, tinggal-lah kita manusia di alam tengah, yang diberi kebebasan untuk memilih, apakah hidup pada “jalur-jalur” teratur seperti halnya planet dan elektron-elektron, ataukah manusia itu melampaui batas.
Tuhan telah menurunkan petunjuknya agar manusia hidup dengan aturan dan jalur-jalur yang tepat dan terukur seperti halnya alam semesta, manusia bebas memilih, apakah ikut pada jalur-jalur yang benar, ataukah hidup bebas melampaui batas-batas hukum Tuhan yang sebenarnya juga yang manusia sebut sebagai hukum alam yang mengatur keteraturan. Tapi manusia memilih jalannya masing-masing, ada yang memilih benar, ada yang memilih untuk tidak taat dan lepas dari batas-batas.
Kehidupan di dunia ini diciptakan sementara, yang pada akhirnya akan membagi manusia menjadi dua golongan berdasarkan pilihannya masing-masing, yaitu golongan Taman(surga), atau golongan api(neraka). Pada fase akhir kehidupan ini, ia bersifat kekal(akhirat), kita akan hidup di taman, atau hidup di api. Konsep keberadaan, yaitu konsep biner, di alam selanjutnya(akhirat) berdiri kokoh, surga dan neraka tidak lagi bercampur seperti di dunia, ia terpisah jauh, surga kokoh dengan kebahagiaannya yang kekal, dan neraka  kokoh dengan kesengsaraannya yang kekal, inilah konsep biner akhir secara waktu. Maka kehidupan dunia ini bersifat seleksi, kehidupan dunia ini adalah proses pembelahan, ibarat pembelahan sel menjadi dua,  yang akan membagi manusia menjadi dua macam, untuk memenuhi konsep biner atau basis keberadaan yang sebenarnya(abadi, akhirat). Dengan kehendakNya, hukum biner ini diberlakukan, tanpa hukum ini, tidak akan ada kita, tidak akan ada yang namanya ada, maka keberadaan surga dan neraka adalah suatu keharusan untuk mematuhi  hukum penciptaan pasangan-pasangan dariNya, untuk mematuhi hukum binerNya.
Cukup dengan waktu yang singkat di dunia, dengan memberi manusia kekuatan yang besar, yaitu memilih, dan diberi jangka waktu tertentu, dinilai perbuatannya sepanjang hidup, ratusan perbuatan dan niat setiap hari, ribuan, hingga jutaan perbuatan dan niat sepanjang hidup manusia, itu cukup menjadi sampel bagiNya sebagai penentu, dan dengan kebijaksanaanNya, untuk menempatkan manusia di tempat yang penuh dengan cintaNya, atau penuh dengan murkaNya.
 Lalu setelah itu, konsep biner(keberadaan) ini berdiri kokoh untuk selamanya, dalam kekuasaanNya. Wallahua’lam.

NewerStories OlderStories Home

0 comments:

Post a Comment