Sesederhana Ide dan Bagaimana Menyampaikan

                Semua sesederhana ide dan cara menyampaikannya. Dimulai dari tujuan, lalu cara untuk mencapai tujuan tersebut. Ada yang namanya filosofi, dan ada teknik untuk menuangkan filosofi tersebut. Ada fungsi, dan ada cara untuk menjalankan fungsi tersebut. Inilah hukum berpasangan segala sesuatu, semua berawal dari ide, tujuan, filosofi, dan fungsi, lalu ada yang namanya cara atau metode untuk menuangkan atau menjalankan ide, tujuan, filosofi, dan fungsi tersebut. Itulah hukumnya. “Cara” itu menyesuaikan ide nya, cara itu “tunduk” kepada ide. Maka dalam membangun segala sesuatu kita harus mengawalinya dari fungsi, fungsi yang kokoh, lalu jalankan cara untuk mengejawantahkan ide tersebut. Keseimbangan fungsi dan cara, yaitu fungsi yang memiliki kekuatan, dan cara yang efektif mewujudkan ide tersebut adalah perpaduan untuk membentuk suatu “bangunan yang kokoh”. Bisa dibilang, ide adalah tujuan, dan cara adalah efek, atau sesuatu yang mengikuti ketika suatu ide muncul dan ingin diwujudkan.
                Sekarang kita lihat di lapangan, di sistem pendidikan, pendidikan apapun, sebagian besar adalah pendidikan untuk menjalankan cara. Kita ambil contoh, ilmu-ilmu seperti manajemen, bisnis, administrasi, adalah ilmu cara. Jika kita memiliki suatu ide, lalu kita berusaha mewujudkannya, hingga terbentuk suatu perusahaan, maka kita membutuhkan ilmu manajemen, administrasi, marketing, untuk menjalankan ide kita tersebut. Maka secara mendasar, ilmu manajemen, administrasi, marketing, merupakan ilmu efek, efek dari kebutuhan untuk mewujudkan dan menjalankan ide. Maka sebenarnya, jika kita ahli dalam bidang manajemen, bisnis, marketing, itu belum tentu menjadikan kita seorang pengusaha, karena itu masih hanyalah ilmu cara, karena bangunan besar yang terbentuk diawali oleh filosofi dan ide yang besar pula. Dalam berbagai training bisnis, kita sebenarnya hanya diajarkan cara, bukan ide, maka jangan heran walaupun kita berpuluh-kali mengikuti training bisnis, tapi tak kunjung menjalankan usaha dengan benar, karena bangunan kita rapuh, kita hanya membesarkan cara, tanpa membesarkan ide dan filosofi. Dan memang ide sendiri tidak diajarkan dimanapun. Ide dapat muncul dari pengalaman hidup masing-masing, kreativitas, pemikiran, rasa ingin menolong, empati, bahkan mungkin takdir Tuhan. Ide memang merupakan suatu hal yang mendalam. Bisnis yang jatuh dikarenakan tidak memiliki bangunan yang kokoh, yaitu yang terdiri dari ide/filosofi dan cara, namun kebanyakan bisnis jatuh karena filosofi yang lemah, karena orientasinya hanya sebatas uang. Membangun sesuatu dengan tujuan uang akan menutupi tujuan yang mendalam, akan menutupi ide-ide besar yang bermanfaat dan memiliki kekuatan, karena uang bukanlah tujuan utama, uang hanyalah efek dari nilai yang kita punya, uang seharusnya tunduk, bukan menjadi barang yang ingin kita capai.
                Kita hidup di zaman modern, dimana tujuan/ide dan cara sudah menjadi sistem yang begitu besar, maka ada dua ranah untuk kita tempati, ranah ide dan ranah cara. Jika kita bekerja, kita masuk ke ranah cara, menjalankan cara untuk mewujudkan dan menjalankan ide/tujuan orang lain. Kita akan banyak berfikir “bagaimana?” dan jarang berpikir “mengapa?”.  Jika kita memiliki suatu ide, lalu mencoba mewujudkannya maka kita biasa disebut pengusaha, pada dunia lain disebut penulis, atau mungkin penemu, intinya orang yang mengawali tindakannya dengan ide nya sendiri, dan mewujudkannya, mereka yang selama hidupnya mengawali tindakannya dengan “mengapa?” lalu berpikir “bagaimana?”, dalam menjalankan “bagaimana?”nya ia akan dibantu oleh orang banyak, karena hukumnya seperti itu. Ide/filosofi akan dilayani oleh cara/metode. Orang-orang ide, akan dibantu oleh orang-orang cara, untuk membentuk bangunan yang kokoh yang terdiri dari ide sempurna dan cara sempurna. Disini kita bisa melihat tingkatan, ide/filosofi itu memiliki tingkatan yang lebih atas dari cara, karena sifat cara adalah menjalankan dan melayani ide. Namun di mata Yang Maha Kuasa, posisi keduanya adalah sama, ia memiliki tanggung jawab masing-masing, keduanya sama penting dalam membangun suatu bangunan, keduanya bisa salah dan bisa benar. Tugas kita adalah menempatkan diri kita pada tempat yang sesuai, apakah ingin menjadi kreator, atau bekerja, berdasarkan pertimbangan potensi dan apa yang lingkungan butuhkan.
                Sebenarnya apa yang ada dihadapan kita, apa yang kita jalani, adalah sesederhana ide dan cara menyampaikan. Seperti bisnis, itu sebenarnya hanyalah ilmu cara. Secara sejarah, mungkin kurang lebih seperti ini; ada seseorang yang ingin menolong masyarakat, lalu ia menciptakan sesuatu, hingga sesuatu itu bermanfaat, maka penemu tersebut mencari cara agar sesuatu yang ditemukannya dapat dikembangkan, sehingga ia meminta biaya pengembangan produknya kepada masyarakat, supaya produknya dapat lebih bermanfaat untuk masyarakat, maka itulah disebut konsep jual-beli, jual-beli yang berdasarkan asas manfaat/ide, namun di zaman sekarang konsep jual beli menjadi “bisnis” yang orientasinya adalah sebatas uang. Kembali kepada cerita, lalu penemu tersebut ingin agar produknya lebih bermanfaat untuk masyarakat yang lebih luas, maka ia memikirkan bagaimana cara menyampaikan produknya kepada masyarakat, atau memasarkan produknya agar manfaatnya menjadi lebih luas, konsep memasarkan ini berasaskan manfaat dan tujuan baik, namun di zaman sekarang jadilah konsep “marketing”, yang kita tahu untuk memasarkan produk agar keuntungan lebih besar. Jadi konsep bisnis dan marketing sebenarnya hanyalah efek, untuk membagikan kebaikan dan kebermanfaatan. Di zaman sekarang, konsep-konsep itu tidak lagi diikatkan kepada aspek kebermanfaatan dan kebaikan dari ide, tapi seperti menjadi konsep tersendiri dengan tujuan untuk menggapai sebatas uang. Kita harus memulai semuanya dari konsep awal, dari fungsi awal yang sebenarnya, hingga cara-cara berjalan proporsional, tepat, dan terikat kepada ide/manfaat yang menjadi tujuan utama. Jika semua menjalankan konsep ini, semua akan saling terikat, maka akan ada rahmat, akan ada saling tolong-menolong, akan ada kesinergisan, dan akhirnya muncullah ketentraman. Hukum awalnya adalah  sesederhana niat(ide) dan bagaimana menyampaikannya. Kita harus kembali berpikir mendasar, agar apa yang kita lakukan benar, untuk terlibat dalam membangun suatu bangunan yang kokoh. Wallahua’lam.

NewerStories OlderStories Home

0 comments:

Post a Comment