Entah mengapa,
orang-orang baik itu akan berjumlah sedikit. Sepertinya itu hukum yang Tuhan
tetapkan. Kualitas dan kuantitas itu berbanding terbalik. Hukum paradoks. Yang
akan menjadi benar-benar sahabatmu berjumlah sedikit, yang akan menjadi
pasangan hidupmu hanya satu orang, para nabi itu berjumlah satu di tengah
ribuan umatnya, teman-teman SD, SMP, SMA, dan seterusnya akan berpisah, dan
pada akhirnya hanya bersisa sedikit yang masih menjalin komunikasi denganmu, di
setiap perpisahan komunitas apapun, bahkan hingga keluarga pun, akan hanya
sedikit kita temukan yang tetap melakukan silaturahmi. Kita adalah satu sperma
yang lolos diantara teman-teman kita dibelakang yang mati. Antara kebaikan dan
kesedikitan seolah adalah dua hal yang terikat hukumnya. Nabi Muhammad Saw,
pergi ke gua hira seorang diri, tidak ada manusia lain yang menyadari dan
memikirkan kebobrokan manusia hingga begitu dalam pada masa itu selain beliau.
Maka satu hal yang harus kita terima adalah, orang-orang baik itu berjumlah
sedikit, jika kita ingin berada pada suatu kebaikan, bersiap-siaplah menjadi
orang yang sedikit.
Karena sahabat
kita yang sedikit itulah, mereka menjadi begitu spesial dan berharga. Karena
orang-orang baik yang sedikit itulah, kita bisa menjalin hubungan dengannya
dengan begitu berharga, karena keluarga itu sedikit, mereka begitu dirindukan.
Karena sesuatu yang sedikit itulah, ia menjadi indah.

0 comments:
Post a Comment