Jika
kita bergerak ke arah atom, atau terbang ke luar angkasa, kita akan melihat
planet-planet bergerak pada garis-garis edarnya, begitu juga dengan elektron
yang bergerak pada lintasan-lintasannya. Ternyata alam semesta memiliki suatu
keteraturan, memiliki suatu batas-batas yang terukur, planet-planet tidak
saling menyebrang lintasannya. Lalu lihatlah struktur tubuh kita, ukuran jari,
jarak antara ruas-ruasnya, jarak mata ke dahi, jarak hidung ke bibir, dan yang
lainnya, itu semua berada dalam suatu
proporsi dan aturan yang telah diatur sedemikian rupa sehingga tepat, cocok,
dan selaras dengan hukum alam dan naluri dasar. Lalu ada struktur pola bunga
yang mengikuti pola atau deret fibbonaci, atau lebih tepatnya manusia menemukan
pola keteraturan alam itu lalu menerjemahkan pola tersebut dalam pola
fibbonaci.
Maka
sebenarnya, manusia yang hidup di tengah alam ini, yang Tuhan ciptakan
berdampingan dengan alam selayaknya memiliki aturan dan pola yang mengikuti
hukum alam pula. Dan ternyata ada agama yang memberikan aturan yang mengikuti
pola ritmis alam, disana manusia diperintahkan untuk melakukan ibadah
menyesuaikan pola ritmis waktu sebanyak 5 kali, sebelum fajar muncul, ketika
fajar di puncak, ketika menjelang suasana senja, ketika siang mulai tenggelam,
dan ketika malam gulita datang. Kita disuruh untuk menjaga batas-batas aurat,
menjaga komunikasi fisik antar lawan jenis, dan lain sebagainya. Walaupun
penulis sendiri belum mampu mematuhi semuanya. Agama ini banyak sekali
memberikan aturan-aturan, yang salah satu hakikatnya adalah menjaga pola alam,
menjaga hukum alam, mengikuti keteraturan alam, yang terdapat pada tubuh
manusia itu sendiri.
Planet-planet
tidak asal-asalan beredar, begitu juga elektron pada atom, mereka berada pada
lintasan-lintasan energi yang terukur, semua seperti paket-paket atau
kuanta-kuanta yang telah teratur dan diatur. Maka selayaknya juga, manusia
dalam hidupnya memiliki keteraturan-keteraturan, memiliki pola dalam hidupnya,
yang selaras dengan alam, yang selaras secara materi dan waktu, dan agama telah
memberikan aturan tersebut, ada yang mampu kita pahami, dan ada yang belum
mampu kita pahami, karena logika amatlah terbatas. Agama tidak akan bisa
dipahami kesemuanya dengan otak logika, agama hanya bisa dipahami dengan otak
spiritual. Wallahua’lam.

0 comments:
Post a Comment